Semen Rembang Perkuat Kompetisi Industri Sejenis dengan Asing

(Rabu, 6 September 2017) -

Aksi unjuk rasa menolak Semen Rembang patut benar-benar dicermati negara. Apakah betul karena merusak lingkungan atau kepentingan persaingan bisnis.

Financial.id, Jakarta. Industri semen di Tanah Air dianggap sebagai salah satu kompetisi bisnis yang ketat. Apalagi, tak semua daerah di Indonesia menyediakan kelayakan bahan baku semen, khususnya di Pulau Jawa.


Oleh sebab itu, kehadiran PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Pulau Jawa menjadi penting, seperti keberadaan pabrik Rembang di antara kehadiran industri sejenis lainnya milik swasta dan asing.


Demikian dikatakan anggota Komisi VI DPR Abdul Wachid, Rabu (6/9). Menurut Wachid, dengan begitu tentu saja PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, melalui pabrik-pabriknya di Gresik, Tuban maupun rencana di Rembang, ingin meningkatkan daya saing dan kualitasnya.


"Begini, tidak semua daerah di Jawa menyediakan bahan baku semen. Jadi PT Semen Indonesia juga membutuhkan untuk kualitasnya di persaingan bisnis dengan semen swasta dan asing. Tentu kan harus memberikan yang terbaik ke pasar," ujar Wachid yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah.


Wachid mencontohkan, di antara banyaknya peredaran semen sekarang di pasaran, mayoritas masyarakat masih lebih memilih produksi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dibandingkan swasta dan asing.


"Nah di situ jelas bahwa perlu ada kualitas terjamin di antara maraknya peredaran semen lain milik swasta dan asing," tutur Wachid.


Mengenai kini kerapnya pabrik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Rembang (Semen Rembang), Jawa Tengah, ditolak sekelompok massa, Wachid beranggapan, perlunya kehadiran negara menyelesaikannya.


"Unjuk rasa tolak Semen Rembang itu harus dilihat dari banyak sisi oleh negara. Apakah memang betul terjadi kerusakan lingkungan akibat penambangan semen atau ada hal lain, seperti persaingan bisnis tidak sehat. Di Pati kabarnya juga ada pabrik semen milik asing mau berdiri namun tak ditolak, tenang-tenang saja," ucap Wachid.


Oleh sebab itu, Wachid mengimbau, negara perlu hadir dengan menelisik fakta kejadian sebenarnya. Termasuk membangun komunikasi dengan semua pihak menyangkut Semen Rembang.


"Kalau benar merusak lingkungan, harus dihentikan. Tapi apa benar? Harus dipastikan lagi ke semua pihaknya. Kalau tidak ada, harus lanjut. Apa jangan-jangan ada persaingan bisnis antar industri semen? Negara harus hadir mengungkapnya, bahkan hingga daerah," ujar Wachid.


Sekelompok massa kembali berunjuk rasa di depan Istana Negara dengan mendirikan tenda menolak berlangsungnya aktivitas Semen Rembang. Massa menilai, Semen Rembang melanggar perjanjian KLHS Kendeng yang melarang berlangsungnya penambangan. (has)


Sumber : Financial.id

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment