Peluang Perbankan Syariah Berkontribusi dalam Industri Halal Indonesia

(Rabu, 25 Januari 2017) -

Yuswohady dalam bukunya, Marketing to the Middle Class Muslim (2014), mengungkapkan fenomena menarik mengenai konsumen muslim di Indonesia. 

Financial.id, Jakarta - Yuswohady dalam bukunya, Marketing to the Middle Class Muslim (2014), mengungkapkan fenomena menarik mengenai konsumen muslim di Indonesia. Menurutnya, di negara-negara barat semakin kaya dan semakin pintar penduduknya, maka semakin luntur pula kehidupan keagamaannya. Di Indonesia sebaliknya, semakin kaya dan semakin pintar kaum muslimnya, mereka justru semakin religius. Fenomena menarik tersebut dapat dilihat dari berbagai hal, seperti ketertarikan konsumen muslim terhadap produk perbankan syariah, revolusi penggunaan hijab di seluruh lapisan masyarakat, kesadaran untuk menggunakan kosmetik halal, mengonsumsi makanan halal, bertumbuhnya industri pariwisata syariah, dan lain sebagainya.


Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam lingkup global, ekonomi islam menunjukan pertumbuhan dan peran yang semakin besar. Hal ini didukung laporan Thomson Reuters dalam “State of the Global Islamic Economy 2016-2017 Report” yang menyebutkan bahwa secara global pengeluaran dari konsumen muslim untuk makanan dan lifestyle mencapai USD 1,9 triliun pada tahun 2015, dan diperkirakan akan mencapai USD 3 triliun pada tahun 2021 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 8%. Sedangkan pengeluaran konsumen muslim untuk indikator islamic finance asset mencapai USD 2 triliun pada tahun 2015 dan diperkirakan akan mencapai USD 3,5 triliun pada tahun 2021 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 9,5%.


Dikutip dari laman Manteb.com, data Thomson Reuters di atas tentunya semakin menunjukkan bahwa industri halal terus tumbuh dengan cepat. Hal ini terjadi sejalan dengan tumbuhnya kelompok “middle class moslem” baik di Indonesia maupun di luar Indonesia. Kelompok masyarakat ini memiliki kemampuan ekonomi yang semakin baik, yang diikuti dengan kesadaran religius yang semakin tinggi, sehingga menciptakan permintaan akan barang dan jasa yang sesuai dengan prinsip syariah. Industri halal yang bertumbuh semakin cepat ini, tentunya juga dapat ditangkap sebagai peluang bagi lembaga perbankan ataupun keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah dapat menawarkan produk/jasa yang kiranya dibutuhkan oleh perusahaan di industri halal tersebut.


Lebih jauh lagi, pertumbuhan ekonomi di industri sektor riil ini tentunya dapat tumbuh semakin cepat jika didukung sistem dan infrastruktur keuangan syariah yang semakin memadai. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), selaku regulator yang bertugas mengatur serta mengawasi industri jasa keuangan, akan terus mendorong industri keuangan syariah agar dapat memanfaatkan peluang ini.*** (T/CH)


Sumber : -

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment