Pabrik Semen Bantah Tudingan Soal Penambangan dan Langgar Saran KLHS Kendeng

(Senin, 4 September 2017) -

Pihak Semen Rembang membantah pernah melakukan perjanjian hukum terkait keputusan KLHS Kendeng. Keputusan KLHS Kendeng hanya bersifat saran.

Financial.id, Jakarta. Pihak PT Semen Indonesia (Persero) Tbk membantah jika pernah melakukan perjanjian hukum menyoal keputusan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kendeng.


Diketahui, keputusan KLHS Kendeng hanya merekomendasikan agar pabrik PT Semen Indonesia di Rembang (Semen Rembang), Jawa Tengah, sebaiknya tidak melakukan penambangan dulu hingga rampungnya penelitian tahap kedua yang dilakukan hingga 6-12 bulan.


Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk Agung Wiharto, Senin (4/9), mengatakan, tidak pernah ada dokumen perjanjian yang ditandatangai bersama antara para pihak terkait keputusan KLHS Kendeng.


"Kalau ada, tolong tunjukkan ke kami. Mana dokumen perjanjiannya? Kami merasa tidak pernah tanda tangan, kami tidak pernah terima perjanjiannya, apakah kelompok yang menolak Semen Rembang punya dokumennya dan tanda tangan?" ucap Agung.


Agung mengungkapkan, keputusan KLHS Kendeng hanya bersifat rekomendasi. Meskipun begitu, rekomendasi itu dihormati Semen Rembang dengan tidak melakukan aktivitas penambangan.


"Walapun secara hukum tidak pernah ada perjanjian, tapi kami tetap menghormati, kami menaati rekomendasi tersebut. Itu kan sifatnya hanya seperti saran, namun kami tetap taati," ujar Agung.


Lainnya yang dikemukakan Agung mengenai tudingan kalangan penolak Semen Rembang yang menyebutkan bahwa telah terjadi penambangan dan melanggar keputusan KLHS Kendeng.


Agung menyampaikan, jika memang tuduhan kepada Semen Rembang telah melakukan penambangan benar terjadi, maka diminta menunjukkan buktinya dimana arealnya serta kapan dilakukan.


"Jadi jangan sekadar tuduh. Kalau punya videonya bahwa Semen Rembang menambang, tunjukkan. Kalau ada buktinya, perlihatkan. Dimana kami menambang, kapan waktunya," tutur Agung.


Begitu juga halnya dengan isu pembakaran tenda milik kelompok penolak Semen Rembang yang katanya tak pernah di proses kepolisian, menurut Agung merupakan kebohongan.


"Kan sudah jelas bahwa polisi sudah memeriksa, ternyata tidak ada unsur pembakaran sengaja. Kenapa sekarang diprotes lagi? Padahal polisi sendiri sudah menyatakan," ujar Agung.


Massa penolak Semen Rembang diketahui hari ini (4/9) kembali berunjuk rasa di depan Istana Negara menuntut dihentikannya aktivitas pabrik Semen Rembang.


Massa menganggap bahwa rekomendasi KLHS Kendeng jelas menyatakan tak boleh dilakukan penambangan bahan baku semen hingga rampungnya penelitian tahap kedua. (has)


Sumber : Financial.id

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment