Nasabah Indonesia Transfer Rp 18,9 Triliun, Pengamat: Pengawasannya Lemah

(Senin, 9 Oktober 2017) -

Pengawasan terhadap sektor perbankan dan pajak di Indonesia dinilai masih amat lemah.

Financial.id, Jakarta. Pengawasan terhadap sektor perbankan dan pajak di Indonesia dinilai masih amat lemah. Lembaga berwenang terkait, yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), dituntut dapat optimal melakukan pengawasannya.


Demikian diungkapkan peneliti INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara, Senin (9/10), menanggapi terungkapnya transfer dana sebanyak Rp 18,9 triliun oleh warga negara Indonesia dari Guernsey Inggris ke Singapura pada tahun 2015. 


Transfer dana berjumlah banyak tersebut dilakukan sebelum diterapkannya aturan laporan global pajak oleh Guernsey pada awal 2016.


“Mungkin ada pihak yang bersengkokol atau oknum yang membantu,” tutur Bhima.


Bhima menjelaskan, sebelum nasabah melakukan transaksi dalam jumlah banyak, ada prosedur yang harus dipatuhi. Semua peraturan yang dibuat untuk mengawasi transaksi perbankan, ujar Bhima, sudah cukup baik. 


Namun, menurut Bhima, masalah yang kerap muncul akibat adanya oknum dibalik pengawasan prosedur yang telah diatur pemerintah guna membantu pihak menghindari pajak.


Bhima berpendapat, perlu adanya audit keamanan ulang atau berkala terhadap semua perbankan yang diawasi oleh Bank Indonesia maupun OJK. Selain itu, Bhima mengatakan, ditambah program Lawyer Customer harus tetap berjalan baik di seluruh unit perbankan.


“Regulasi di Indonesia sudah bagus, hanya memang oknum-oknum nakal dan para penghindar pajak harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku jika terbukti adanya tindak pidana,” ucap Bhima. (mgl/cr)


Sumber : Financial.id

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment