Naiknya Cukai Rokok Akibatnya Bertambahnya Pengangguran

(Rabu, 1 November 2017) -

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor PMK-146/PMK.010/2017 tentang tarif Cukai Hasil Tembakau, dimana persentase untuk Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 10,9%, Sigaret Putih Mesin (SPM) sebesar 13,5%, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebesar 7,3%.

Financial.id, Jakarta. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor PMK-146/PMK.010/2017 tentang tarif Cukai Hasil Tembakau, dimana persentase untuk Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 10,9%, Sigaret Putih Mesin (SPM) sebesar 13,5%, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) sebesar 7,3%.


Menanggapi hal tersebut, Bhima Yudhistira Adhinegara selaku peneliti INDEF mengatakan, Rabu (01/11), menimbulkan dampak penurunan produksi pada industri rokok yang mengakibatkan pembelian tembakau dari petani akan berkurang, akibatnya pengangguran pada kalangan petani tembakau akan bertambah.


“bahkan perusahaan rokok juga akan mulai melakukan pengurangan tenaga kerja” kata Bhima.


Menurut Bhima, kenaikan cukai yang diterapkan pemerintah demi mengendalikam konsumsi rokok tidak tepat sasaran. Hal tersebut dikatakannya mengingat rokok merupakan produk yang elastis.


“itu elastis, walaupun harga rokok meningkat akibat cukai meningkat, orang-orang tetap membeli rokok” kata Bhima.


Bahkan menurutnya, dengan kenaikan cukai pada rokok mengakibatkan meningkatnya ilegalitas pada rokok itu sendiri. Masyarakat yang ingin merokok dengan harga yang lebih murah, akan membeli rokok yang tidak berpita cukai. 


Analisa Bhima menyebutkan tanpa adanya kenaikan cukai berdampak kenaikan ilegalitas, terbukti tahun 2015 ada ilegalitas rokok kurang lebih sebesar 10%, meningkat di tahun 2016 kurang lebih sebesar 11% dari total aktifitas penjualan rokok di Indonesia.


Selain itu, Bhima menuturkan dalam 3 tahun trakhir penerimaan cukai tidak sesuai target. 


"kalau dipaksa naik akan blunder" kata Bhima. (mgl/cr)


Sumber : Financial.id

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment