Kasus Klaim SMAK Dago, Berkas Edward Soeryadjaya Bisa Dilimpahkan Lagi ke PN Bandung

(Jum'at, 8 Desember 2017) -

Jaksa perkara keterangan palsu Akta Notaris untuk mengklaim SMAK Dago dapat mellimpahkan berkas perkara Edward Soeryadjaya lagi ke PN Bandung kemudian melanjutkan persidangannya.

Financial.id, Jakarta. Jaksa Penuntut Umum (JPU) perkara keterangan palsu Akta Notaris Nomor 3/18 November 2005 yang digunakan untuk mengklaim aset nasionalisasi SMAK Dago, Bandung, Jawa Barat, secara hukum dapat melanjutkan pemeriksaan terhadap salah seorang terdakwanya yaitu Edward Soeryadjaya.


Menurut pengamat hukum dari Universitas Trisakti Yenti Garnasih, Jumat (8/12), proses kelanjutan pemeriksaan tersebut dengan meminjam terdakwa Edward ke Kejaksaan Agung dan melimpahkan lagi berkas perkaranya kepada Pengadilan Negeri (PN) Bandung tempatnya di sidang.


"Kasus Edward Soeryadjaya merupakan kasus yang berbeda di PN Bandung dan Kejaksaan Agung. Sehingga perlu kordinasi antara pihak Jaksa di PN Bandung dengan Kejaksaan Agung," ujar Yenti.


Guna diketahui, Edward Soeryadjaya mangkir dan tak pernah hadir dalam sidang perkara keterangan palsu Akta Notaris Nomor 3/18 November 2005 yang telah berlangsung 15 kali.


Edward Soeryadjaya berdalih sakit sehingga diputuskan ditunda pemeriksaannya di PN Bandung. Padahal sebelumnya, Dokter independen yang memeriksa kesehatan Edward Soeryadjaya menyatakan bahwa terdakwa dapat dihadirkan ke persidangan asal didampingi ahli medis.


Bahkan pihak RSUD Tarakan Jakarta, tempat Edward Soeryadjaya diperiksa kesehatannya, mengungkapkan, tidak pernah menerbitkan surat sakit permanen terhadap terdakwa.


Ternyata belum lama ini, Kejaksaan Agung berhasil menahan Edward Soeryadjaya di Rutan Salemba dengan kasus berbeda serta menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana pensiun PT Pertamina (Persero) yang merugikan negara mencapai Rp 1,4 triliun.


Yenti mengemukakan, amat terasa aroma kejanggalan pada proses pemeriksaan Edward di PN dengan alasan sakit yang digunakannya. 


Yenti beranggapan, penegak hukum yang menangani perkara keterangan palsu Akta Notaris Nomor 3/18 November 2005, khususnya Jaksa, mengindikasikan bersikap tidak tegas.


"Harus ada upaya paksa menghadirkan seseorang wajib hukum, apalagi berstatus terdakwa, jika telah mangkir dua kali panggilan sidang," tutur Yenti.


Selain Edward, pada perkara keterangan palsu Akts Notaris Nomor 3/18 November 2005 juga menetapkan dua terdakwa lainnya yakni Maria Goretti Pattiwael dan Gustav Pattipeilohy.


Sama halnya dengan Edward Soeryadjaya, terdakwa Maria Goretti diketahui juga selalu mangkir dalam sidang sebab alasan sakit. (mgl/cr)


Sumber : Financial.id

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment