KEIN Tingkatkan Peran Industri Manufaktur

(Jum'at, 8 April 2016) -

Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menginginkan kontribusi industri manufaktur bisa mencapai 40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Jakarta, (The Financial) - Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menginginkan kontribusi industri manufaktur bisa mencapai 40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Untuk mencapai target tersebut, KEIN sedang menyusun peta jalan industrialisasi 2016-2045.


Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan, tahun lalu peran industri manufaktur hanya 18,1 persen terhadap PDB atau setara Rp2.097,71 triliun. Padahal, di negara-negara maju, sektor yang menciptakan nilai tambah, teknologi, dan penciptaan lapangan kerja tersebut mampu berperan hingga 40 persen terhadap PDB.


”Bahkan, presiden ingin ini terjadi 10 tahun lagi. Sekarang itu baru 18 persen,” kata Arif di Jakarta.


Dia menambahkan, peta jalan tersebut disusun guna mengantisipasi penurunan lebih lanjut peran industri manufaktur terhadap PDB yang terjadi dalam kurun waktu satu dekade terakhir.


Staf Ahli Menteri Keuangan tersebut mengatakan, dengan target tersebut, industri manufaktur harus tumbuh rata-rata minimal 2 persen setiap tahun secara year-on-year (yoy). Menurutnya, dalam jangka pendek industri yang perlu didorong dalam sepuluh tahun pertama ialah industri berbasis sumber daya alam (SDA), terutama mineral, pertambangan, serta pertanian dalam arti luas.


”Kita juga merupakan negara dengan nomor empat penduduk terbesar di dunia, maka kemudian industri yang menyerap tenaga kerja banyak seperti alas kaki, tekstil,” katanya.


Pada sepuluh tahun kedua, lanjut Arif, pemerintah perlu fokus mengembangkan industri berteknologi tinggi. Namun, kerangka dasar untuk menopang industri nasional juga perlu diperhatikan seperti industri baja, kimia dasar, petrokimia, dan lain-lain.


Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, salah satu pendorong kuatnya industri nasional di masa lalu adalah terpusatnya industri di dalam suatu kawasan.


Namun, yang terjadi saat ini adalah kondisi kawasan industri yang memprihatinkan. ”Dulu perusahaan-perusahaan itu masuk ke dalam kawasan industri, sekarang di kawasan justru gangguannya lebih besar. Yang pertama itu soal buruh, yang kedua infrastruktur,” kata dia.


Dia pun mencontohkan, kawasan industri di Karawang dan Bekasi dinilai memiliki pembangunan infrastruktur dasar yang minim, terutama pelabuhan.


Hariyadi juga menyoroti kelangkaan bahan baku yang dialami para pelaku usaha yang belum terselesaikan hingga saat ini. Lemahnya daya saing industri nasional membuat negara tetangga seperti Vietnam berhasil menyalip Indonesia, terutama industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki.


Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Benny Soetrisno menilai, Indonesia perlu belajar dari Vietnam yang mendorong industrialisasi dengan fokus kepada industri padat karya dan ekspor. Dia menilai, hal inilah yang menjadi keunggulan komparatif Vietnam sehingga bisa maju.


Mantan Menteri Perindustrian di era Presiden Soeharto Hartarto Sastrosoenarto mengatakan, pemerintah harus mengidentifikasi keunggulan komparatif nasional sebelum menentukan prioritas industri yang akan diambil.


Dia menilai, industri yang akan berdaya saing kuat bagi Indonesia antara lain industri berbasis SDA, seperti hasil tambang, tani, hutan, kebun, dan laut. Hartarto juga menekankan pentingnya pengembangan industri hulu seperti logam dasar dan kimia dasar untuk menekan impor. (Okz/Ch)


Sumber : -

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment