Bank Indonesia Diramalkan Bakal Kerek Suku Bunga di Semester II

(Rabu, 1 Maret 2017) -

Ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi memperkirakan, adanya kemungkinan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunganya di semester II tahun ini.

Financial.id, Jakarta - Ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi memperkirakan, adanya kemungkinan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunganya di semester II tahun ini.


"Hal itu ditopang dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi dan juga tekanan dari global interest rate yang didorong oleh Federal Reserve," kata Gundy dalam press release, ditulis Rabu (1/3/2017).


Gundy mengatakan, kunci utama pertumbuhan ekonomi tahun ini sebenarnya terletak di investasi. Pertumbuhan sektor manufaktur yang masih mengecewakan menjadi halangan utama untuk potensi investasi tahun ini.


"Walau bagaimana pun kami melihat tanda-tanda yang cukup positif dari data belakangan ini," ungkap Gundy.


Diantaranya ia sebutkan, pemulihan pada pertumbuhan ekspor, serta data investasi asing langsung yang menunjukkan adanya investasi asing langsung ke sektor manufaktur menyentuh rekor tertinggi 2016.


Dikutip dari laman Kompas.com, membaiknya pertumbuhan ekspor merupakan satu hal yang positif. Kontribusi dari net ekspor untuk pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan naik. Investasi akan lebih baik didorong dengan membaiknya fundamental ekonomi.


"Kami melihat kemungkinan besar kalau S&P akan menaikkan credit rating Indonesia tahun ini," ucap Gundy.


Sementara itu, pertumbuhan konsumsi diperkirakan masih akan terus stabil di kisaran lima persen. Adapun inflasi diperkirakan mencapai 4,5 persen, atau lebih tinggi dari 2016 yang sebesar 3,5 persen karena dampak harga minyak dan kenaikan harga yang diatur pemerintah.


Gundy menuturkan, pihaknya memprediksikan Federal Reserve bakal menaikkan suku bunga acuannya empat kali 25 basis points (bps) pada tahun ini.


DBS melihat pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) telah terus berlanjut, dengan data penyerapan tenaga kerja yang sudah hampir 100 persen.


"Perekonomian AS kini telah kembali ke full employment. Selain itu, inflasi juga telah mencapai target the Fed, melewati level 2 persen sejak Desember 2016," imbuh Gundy.


Rupiah


Lantas bagaimana rupiah mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan Fed? Untuk sementara ini, pasar keuangan baru melakukan penetapan atau penyesuaian (pricing in) sebanyak dua kali rate hike dari the Fed.


Lebih lanjut kata Gundy, mereka memperkirakan penguatan dollar AS akan kembali menjadi tema dominan sepanjang tahun ini.


"Rupiah tidak akan terhindar dari gelombang penguatan dollar AS ini. Walaupun perlu dicatat bahwa kami melihat Rupiah akan terus melanjutkan kemampuannya bertahan (resilient) dibandingkan rata-rata mata uang Asia lainnya," ungkap Gundy.*** (T/CH)


Sumber : -

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment