OJK Segera Rilis Aturan Tata Kelola Emiten untuk Tingkatkan GCG

(Selasa, 26 Mei 2015) - OJK berwenang mengenakan sanksi administratif terhadap setiap pihak yang melakukan pelanggaran ketentuan peraturan OJK ini, termasuk pihak-pihak yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tersebut.
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan draf aturan Penerapan Pedoman Tata Kelola Emiten Atau Perusahaan Publik. Menurut pejabat OJK, draf aturan tersebut merupakan bagian dari dari roadmap good corporate governance (GCG) yang ditargetkan selesai pada .Juni 2015.

Muliaman Darmansyah Hadad, Ketua Dewan Komisioner OJK, mengatakan dalam rancangan aturan ini yang dimaksud dengan Pedoman Tata Kelola Emiten atau Perusahaan Publik pedoman yang dikeluarkan oleh OJK bagi emiten atau perusahaan publik guna meningkatkan praktik tata kelola sesuai dengan praktik keteladanan atau praktik yang berlaku secara umum, sebagaimana dijelaskan pada draf aturan tersebut pasal 1.

Kemudian, lanjut Muliaman, poin penting tercantum pada pasal 2 yang disebutkan bahwa dalam hal emiten atau perusahaan publik tidak menerapkan prinsip dan rekomendasi sebagaimana termuat dalam Pedoman Tata Kelola, maka emiten atau perusahaan publik wajib memberikan penjelasan.

\"Kewajiban pengungkapan informasi tersebut, paling tidak harus dimuat dalam laporan tahunan dan situs web emiten atau perusahaan publik,\" kata Muliaman.

Selain itu, dengan tidak mengurangi ketentuan pidana di bidang Pasar Modal, OJK berwenang mengenakan sanksi administratif terhadap setiap pihak yang melakukan pelanggaran ketentuan peraturan OJK ini, termasuk pihak-pihak yang menyebabkan terjadi pelanggaran tersebut.

Sanksi administratif tersebut antara lain berupa peringatan tertulis, denda dengan sejumlah uang tertentu, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha, dan pencabutan izin usaha.

\"Kemudian ada sanksi pembatalan persetujuan dan pembatalan pendaftaran,\" jelas Muliaman.

Muliaman menjelaskan emiten atau perusahaan publik wajib menyesuaikan dengan ketentuan peraturan OJK ini paling lambat satu tahun sejak disahkannya peraturan OJK ini menjadi Undang-Undang.

Sementara itu, Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, mengatakan draf aturan tata kelola tersebut merupakan bagian dari roadmap penerapan GCG di Indonesia untuk bisa lebih bersaing dengan emiten atau perusahaan publik bursa negara lain. Draf aturan ini ditargetkan selesai pada Juni 2015 dan saat ini masih dalam proses rule making rule.

\"Itu akan mengatur tentang apa-apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh emiten tapi belum dalam bentuk aturan, kalau sudah berupa aturan emiten wajib mematuhinya,\" kata Nurhaida kepada IFT.

Kemudian, lanjut Nurhaida draf pedoman aturan ini dasarnya adalah comply or explain. Artinya, ada satu kondisi GCG yang dipersyaratkan dalam artian supaya mereka (emiten) ikuti. Tapi kalau tidak bisa dipenuhi mereka wajib untuk menjelaskan. Dalam perkembangannya, OJK melihat itu harus dilakukan emiten, dan pedoman ini harus diangkat jadi peraturan.

\"Pedoman ini arahnya nanti akan dijadikan aturan dan masuk dalam UU Pasar Modal. Tapi kalau yang tata kelola ini sebagai pedoman tata kelola, karena hanya pedoman tidak diwajibkan untuk dipenuhi. Tapi kalau tidak dipenuhi mereka harus menjelaskan,\" jelas Nurhaida.

Rating Rendah

Di sisi Iain, Nurhaida mengakui rating GCG emiten atau perusahaan publik di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan emiten bursa lain di kawasan ASEAN. Contoh kecilnya yaitu website emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini masih banyak yang belum berbahasa Inggris dan keterbukaan informasinya juga masih belum spesifik.

\"Diharapkan dengan aturan baru meningkatkan GCG, nantinya perusahaan Indonesia mendapatkan poin lebih baik karena Pasar Modal Indonesia sendiri saat ini kinerjanya cukup baik,\" katanya.

Ito Warsito, Direktur Utama BEI, juga mengakui bahwa peringkat GCG emiten domestik belum sesuai harapan, namun terus mengalami perbaikan. Rendahnya peringkat itu juga tidak terlepas dari perbedaan tolok ukur penilaian di masing-masing negara ASEAN.

\"Tim penilai yang merating terdiri dari masing-masing negara yang berbeda. Jadi, mereka menggunakan tolok ukurnya masing-masing. Maka beda cara, beda juga hasilnya,\" katanya.

Kendati demikian, Ito Warsito mengatakan bahwa pihaknya akan terus mengupayakan untuk mendorong perbaikan GCG agar emiten Indonesia dapat lebih bersaing di level ASEAN dan pada akhirnya menjadi daya tarik bagi investor lintas negara untuk berinvestasi di Pasar Modal Indonesia.

Christmastuti Destriyani,Firdaus Nur Iman

Sumber : Indonesia Finance Today

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment