Ramah, Strategi Paling Jitu

(Senin, 6 April 2015) - Besarnya tantangan yang dihadapi bisnis asuransi di Indonesia akan sepadan dengan hasilnya nanti dalam 5 hingga 10 tahun mendatang.
DI film-film, para bos perusahaan besar kerap dikesankan sebagai karakter yang tegas dan pemarah. Karakter tersebut sangat bertentangan dengan apa yang ditampilkan Kevin D Strain, yang menjabat Presiden Sun Life Financial Asia sejak 2012 lalu.

Strain berbadan tegap, kulit kemerahan, dan bibir yang senantiasa menyunggingkan senyum ramah. Dalam se-telan jas hitam yang rapi dan halus. Strain menjabat tangan para koleganya di Indonesia dengan jabatan yang erat serta ramah pada acara Asia Pacific Life insurance Congress (APLIC) 2015 di Bali, Selasa (24/3).

Strain mengaku ayahnya merupakan anutan dalam menjalankan pekerjaan. Dari sang ayah pula, ia belajar bersikap.

\"Ayah saya adalah role model saya (dalam menjadi pebisnis), Ia mengajari saya cara berbisnis, terutama caranya memperlakukan rekan kerja dan konsumen saya,\" ujar Strain kepada Media Indonesia.

Sun Life sekaligus merayakan ulang tahun ke-150 dalam acara tersebut. Strain berbagi 150 cupcake dengan para agen dan perencana keuangan sembari berbincang hangat. Ia tidak fasih berbahasa Indonesia, penerjemahnya terus berada di sekitar Strain untuk memastikan para staf, agen, dan perencana keuangan dapat berbincang dengan Strain tanpa kendala bahasa.

Keramahan menurut Strain sebagaimana diajarkan ayahnya merupakan strategi pemasaran yang jitu. Itu yang selalu ia terapkan sepanjang perjalanan bisnis dan karier.

\"Saya belajar bisnis sejak usia 14 tahun, dengan ayah saya tentu. Itu bisnis milik ayah saya, saya hanya belajar, tapi beliau mengajari saya banyak hal,\" terangnya.

Sejak belia

Sang ayah telah mengajarkan dengan baik ilmu berbisnis padanya. Meski menurut Strain, ayahnya hanyalah pebisnis kecil yang melayani pengadaan mesin pabrik es dengan karyawan tidak lebih dari 4 orang.

Ia bukan satu-satunya pewaris strategi pemasaran dari sang ayah. Saudara laki-laki Strain yang berprofesi sebagai salesman juga mendapatkannya. Adapun saudara perempuannya memilih menggeluti dunia pendidikan sebagai guru.

Di keluarganya. Strain dikenal sebagai anak yang pandai membujuk. \"Mereka bilang saya salesman yang hebat,\" kelakar Strain.

Minatnya di bidang bisnis kemudian mengerucut pada ilmu akutansi. Strain mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Waterloo, Kanada.

Setelah menuntaskan studi. Strain mantap memulai kariernya sebagai akuntan. \"Saya memulai bisnis di usia 26 tahun, sebagai akuntan sesuai dengan kuliah saya. Baru 2 tahun kemudian di 1994, saya memulai bisnis independen dan terjun ke dunia Asuransi,\" kisah\"Strain.

Kini, ia bertanggung jawab terhadap operasi Sun Life yang memiliki 7 pasar kunci, yakni Filipina, Hong Kong, Indonesia, India, Tiongkok, Vietnam, dan Malaysia.

Menantang

Dunia keuangan dan kompleksitasnya barang kali memang amat asing bagi masyarakat Indonesia, penetrasi pasar keuangan secara umum di Indonesia hanya sebesar 21.8%. Asuransi sebagai salah satu produk jasa keuangan memiliki porsi yang lebih kecil lagi.

Sebagai seorang pebisnis, situasi tersebut tentu merupakan tantangan yang besar. Strain mengatakan besarnya tantangan yang dihadapi bisnis asuransi di Indonesia akan sepadan dengan hasilnya nanti dalam 5 hingga 10 tahun mendatang.

Fenomena yang terjadi di Indonesia dikatakan Strain juga terjadi pada negara lain di Asia. Dari total keuntungan yang diperoleh Sun Life, diakui Strain Asia baru dapat menyumbang 10% saja. \"Yang terbesar Kanada, karena basis kita di sana. Kanada menyumbang 45%,\" papar Strain.

Menilik potensi penetrasi di Indonesia, Strain tidak ragu menetapkan Indonesia sebagai salah satu pasar terpenting Sun Life Financial Asia. Tiga bidang menjadi foskus pengembangan internal sebagai ujung tombak perluasan pasar, salah satunya sumber daya manusia.

Sun Life memiliki sekitar 8.300 agen asuransi. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 15 ribu agen pada 2017.

\"Per tahun kami investasikan dana sebesar US$40 juta untuk sumber daya manusia, teknologi dan merek di Indonesia. Selama 3 tahun. Itu karena kami melihat pertumbuhan asuransi di Indonesia yang pesat,\" jelas Strain.

Faktanya, saat ini baru 12% dari total populasi 250 jutaan jiwa di Indonesia yang telah menggunakan produk asuransi. Berdasarkan laju pertumbuhan ekonomi dan prospeknya, ditambah bonus demografi, Strain menilai tidak berlebihan jika Indonesia dinisbatkan sebagai ladangsubur untuk berinvestasi.

Pasar di Indonesia sejauh ini memberikan kontribusi 10% terhadap total pendapatan Sun Life. Penyedia jasa asuransi tersebut membidik kontribusi yang lebih besar dari penjualan asuransi di Indonesia, yakni berkisar 15% hingga 20%.

Demi menyokong pencapaian target tersebut, selain menambah agen. Sun Life jug;i berencana menambah 10-20 kantor cabang tahun ini.

Kolaborasi

Tugas paling berat ialah membuat masyarakat menyadari kebutuhan mereka terhadap produk asuransi Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berasuransi bukanlah perkara mudah. Strain memahami betul pentingnya peranan pemerintah untuk masuk di dalamnya.

Program Literasi Keuangan yang diinisiasi OJK dinilai Strain sebagai salah satu strategi ampuh yang amat membantu industri asuransi, \"lain yang turut diacungi jempol ialah penyelenggaraan badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS).

Keberadaan BPJS sering kali disalahartikan. Pelaku jasa asuransi tidak jarang yang merasa terancam dengan kiprah BPJS. Lain halnya dengan Sun Life.

Menurut Strain, BPJS justru menguntungkan industri asuransi. \"Kami tidak melihat BPJS sebagai kompetitor, malah lebih kepada kolaborator. Perencanaan kesehatan oleh pemerintah semacam itu telah ada di banyak negara, itu malah berpengaruh baik bagi industri asuransi,\" jeas Strain.

Dengan adanya BPJS, masyarakat semakin merasakan manfaat asuransi. Mereka akan lebih terbuka menjajal produk-produk asuransi di luar yang ditawarkan BPJS.

\"Itu bisa jadi pintu masuk untuk kita menyadarkan masyarakat akan pentingnya perencanaan untuk masa depan,\" tukas Strain.

Pelaku jasa asuransi dapat mengantisipasi kebutuhan itu dengan menawarkan produk-produk mereka. Saat ini pun, produk yang ditawarkan Asuransi swasta sudah beragam, bukan sekadar meng-coer biaya kesehatan seperti dilaksanakan BPJS. Selanjutnya tinggal melakukan inovasi-inovasi layanan maupun produk agar masyarakat lebih tertarik. (E-l)

fathia@mediaindonesia.com

Fathia Nurul Haq

Sumber : Media Indonesia

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment