Ikhlas, Jangan Setengah-setengah

(Senin, 6 April 2015) - Lahir di Medan, Sumatera Utara, 18 Juni 1967, Elvyn G Masassya lebih dikenal sebagai seorang penyanyi jazz, penulis lagu, dan produser rekaman. Dia juga dikenal sebagai seorang kolumnis. Kepiawaian Elvyn dalam kedua bidang tersebut, selama ini terbukti berhasil \"menyembunyikan\" kepiawaian lain yang tak kalah menterengnya.
Itulah dunia korporasi. Prestasi Elvyn di dunia korporasi justru terbilang moncer. Ia dikenal piawai memoles perusahaan keluar dari krisis untuk kemudian kembali sehat dan melaju pesat meraih pertumbuhan. Sebut saja Bank Permata, bank hasil merger lima bank yang sempat dirundung masalah akut pada 2000-an. Di tangan Elvyn, persoalan menjadi beres. Begitu pula ketika ia mendapat tugas untuk menangani PT Tuban Petrochemical Industries.

Jika kemudian Elvyn G Masassya diserahi tugas mengantar PT Jamsostek bertransformasi menjadi badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, polesan tangan dinginnyalah yang menjadi jaminan.

Dia menyebut \"Lima K\" sebagai pedoman hidup, salah satunya bekerja dengan sepenuh hati. \"Bekerjalah dengan sepenuh hati dan keikhlasan. Jangan setengah-setengah,\" kata Elvyn G Masassya kepada wartawan Investor Daily Alex Dungkal di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.

Anda lebih dikenal sebagai kolumnis, juga seseorang musisi jazz. Bagaimana sesungguhnya perjalanan karier profesional Anda?

Itu yang memang tidak banyak diketahui. Padahal, saya sesungguhnya seorang profesional korporasi. Saya pernah menjadi Direktur PT Bank Permata Tbk, kemudian sekretaris perusahaan PT Bank Negara Indonesia Tbk, Direktur PT Tuban Petrochemical Industries, dan mulai masuk ke PT Jamsostek (Pesero) pada 2008 dengan jabatan sebagai direktur Investasi. Puncaknya, pada 8 Agustus 2012, saya diangkat menjadi Chief Executive Officer (CEO) atau Direktur Utama PT Jamsostek, yang saya emban hingga perusahaan ini bertransformasi menjadi badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) sekarang ini.

Ketika masuk Jamsostek pada 2008, kondisi investasi di perusahaan ini sedang tidak bagus. Saya diminta untuk membenahinya. Jadi, sudah ketiga kalinya, saya ditugaskan pemerintah untuk menangani perusahaan yang sedang kurang kondusif, mulai dari PT Bank Permata Tbk, PT Tuban Petrochemical Industries, serta PT Jamsostek (Pesero) ini.

Anda terlibat langsung dalam lika-liku transformasi Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Bagaimana kisah awal pergulatannya?

Sejak semula saya memang ditugaskan untuk menyiapkan transformasi Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Saya menyadari ada tantangan besar yang terbentang di depan mata. Pertama, bagaimana meningkatkan kinerja dengan menambah kepesertaan serta keberlanjutan investasi. Tantangan kedua adalah bagaimana menyiapkan agar transformasi berjalan secara baik dan sempurna, tanpa masalah.

Saya bersyukur direksi lama telah meninggalkan kinerja yang bagus dan efektif, dan para jajaran direksi baru harus meneruskannya serta meningkatkannya dengan lebih baik lagi. Saya minta teman-teman direksi baru untuk bekerja lebih keras, bekerja dengan passion untuk mengawal kelahiran BPJS.

Harus diingat bahwa payung hukum transformasi Jamsostek adalah amanat Undang-Undang No 24 Tahun 2011 tentang badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS). Ini berarti harus segera ada perubahan bentuk dari perseroan terbatas (PT) pesero menjadi badan hukum publik yang langsung berada di bawah presiden.

Persiapan pun mulai dilakukan pada 2012 dan 2013. Pada 2012, kami sebut sebagai era rekonsolidasi. Lalu pada 2013, kami membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk transformasi tadi. Kami buatkan road map perubahan, mulai dari visi, misi, nilai-nilai perusahaan, strategi, kultur perusahaan, dan lain-lainnya. Lalu, tepat 1 Januari 2014, PT Jamsostek resmi menjadi BPJS Ketenagakerjaan dengan menyelenggarakan tiga program, yakni jaminan hari tua, jaminan kecelakaan kerja, dan jaminan kematian. Jaminan sosial kesehatan yang sebelumnya masuk PT Jamsostek dialihkan ke BPJS Kesehatan, yang sebelumnya adalah PT Askes (Pesero).

Saat ini, BPJS Ketenagakerjaan sedang dalam persiapan untuk beroperasi penuh pada 1 Juli 2015. Mulai 1 Juli 2015 itulah kami harus menyelenggarakan satu program baru, yakni jaminan pensiun untuk pekerja swasta. Inilah yang disebut beroperasi penuh dengan empat program, yaitu jaminan hari tua, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan jaminan pensiun untuk swasta.

Di mana letak perbedaan antara pengelolaan PT Jamsostek dan BPJS Ketenagakerjaan?

Perbedaannya sangat jelas bahwa ketika masih Jamsostek, badan hukumnya adalah PT (persero) dengan orientasi profit. Tapi setelah menjadi badan hukum publik, dia adalah institusi nirlaba. Orientasinya adalah pelayanan dan perlindungan kepada para pekerja.

Dengan dua titik orientasi yang berbeda tersebut maka apa yang kemudian harus kami lakukan adalah transformasi total. Tidak hanya dalam tata kelola, transformasi terjadi di semua aspek, mulai dari perubahan visi, membuat corporate culture yang baru, proses bisnis yang baru, cara berpikir yang baru, paradigma baru, dan semuanya yang serba baru sesuai amanat UU BPJS.

Soal visi, kami mengambil \"To Be World Class\" sebagai titik dasar dan orientasi BPJS Ketenagakerjaan dalam setiap kiprahnya. World class tidak dalam pengertian kelak akan dibuka cabang-cabang di luar negeri, melainkan cara pengelolaan institusi ini harus setara dengan institusi serupa yang ada di negara-negara lain. Harus ada benchmark ke negara-negara lain yang lebih maju di bidang pelayanan jaminan sosial.

Karena itu, BPJS harus menjadi institusi jaminan sosial yang bersahabat, layak dipercaya, excellent dalam kegiatan operasionalnya, dan betul-betul memberikan pelayanan terbaik, baik dalam aspek investasinya, dalam aspek kepesertaan, dan lain-lainnya.

Membangun sebuah kultur baru tentu tidak mudah. Apa kiat Anda untuk menularkan pemahaman baru itu?

Saya selalu berkomunikasi dengan para staf dan para karyawan tentang perubahan radikal yang sedang dan harus terus berlangsung. Saya juga berbicara kepada mereka tentang values atau nilai-nilai dan etos kerja yang harus dibangun bersama. Saya berprinsip, transformasi bukan sekadar perubahan bentuk kelembagaan, tapi juga perubahan kultur yang radikal dan dramatik. Dalam hal nilai-nilai atau values, saya tularkan apa yang disebut dengan singkatan IPTIK, yaitu iman, profesional, teladan, integritas, dan kerja sama. Sedangkan soal etos kerja, saya kembangkan apa yang disebut dengan TOPAS, yakni teamwork, open mind, passion, action, sense of ownership.

Guna mewujudkan visi, misi, dan etos kerja, saya juga membangun karakter institusional yang memberikan pelayanan dengan prinsip less bureaucratic, less feudalism, more modern, more friendly. Ini kelihatan biasa-biasa saja, tapi sebenarnya itu hal tidak biasa yang harus dilakukan guna memberikan pelayanan terbaik.

Terkait birokrasi pelayanan, saya selalu katakan kepada para staf untuk mengambil keputusan secara cepat, jangan bertele-tele. Terkait less feudalism, saya selalu ingatkan bahwa direksi itu bukan bos. Makanya kemudian kalau Anda melihat saya memakai pakaian seperti ini, tak perlu berjas dan tidak perlu pakai dasi. Adapun more friendly maksudnya bahwa seluruh karyawan-karyawati harus bersahabat, baik eksternal maupun di internal. Tak boleh ada ego di organisasi. Semua harus menjadi bagian dari organisasi.

Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya adalah para karyawan merasa berada di rumah sendiri kalau berada di kantor ini. Jangan orang datang ke kantor malah stres. Kami ciptakan kondisi atau suasana seperti itu, datang ke kantor mesti senang, fun. Maka saya membangun tim olahraga, bermusik, bernyanyi, supaya ada hidup. Ini yang kami jadikan fondasi di institusi.

Apa pencapaian Anda sejauh ini?

Semuanya tentu belum sempurna. Tapi, kami sudah melangkah untuk membangun apa yang namanya new branding. BPJS Ketenagakerjaan sudah berada di jalur yang benar. Ada spirit baru di sini.

Adakah perubahan-perubahan signifikan setelah lebih dari setahun BPJS berjalan?

Terciptanya kultur baru saja tidak cukup. Kami perlu elemen-elemen lain untuk bertransformasi, karena pengertian transformasi berarti perubahan yang melampaui bentuk. Ada trans, ada form. Jadi, bukan sekadar bertumbuh, tapi juga berubah bentuk. Karena itu, saya bangun infrastruktur di semua elemen institusi, mulai dari elemen utama yang meliputi kepesertaan, Investasi, hingga pelayanan.

Di bidang kepesertaan, kami buat paradigma baru, dari pasif menjadi aktif. Zaman dulu orang datang sendiri untuk mendaftar, tapi sekarang kami datangi. Kami mengubah pendekatan agar mereka datang. Pekerja yang sudah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan diberikan akses untuk perumahan, akses untuk transportasi, akses untuk food, dan seterusnya.

Di bidang pelayanan, kami membangun satu konsep baru yang disebut new paradigm of the services. Apa itu? Kalau dulu klaim untuk mendapatkan jaminan hari tua membutuhkan waktu dua minggu baru selesai, sekarang yang dua minggu itu harus selesai dalam 20 menit

Di bidang teknologi informasi (TT), kami bangun infrastruktur baru yang membuat para peserta BPJS bisa melakukan transaksi secara elektronik. Terkait sumber daya manusia, kami susun jenjang karier yang transparan, tidak lagi berdasarkan urut kacang. Karyawan terbaik akan mendapatkan kepercayaan yang lebih besar. Jadi, organisasi berbasis kinerja. Kemudian di bidang governance atau tata kelola yang baik, kami terap kan zero tolerance untuk fraud. Kami tempatkan governance ini sebagai nilai tertinggi.

Obsesi Anda dengan BPJS ke depan?

Obsesi saya adalah sudah terimplemen-tasinya kesejahteraan dasar bagi semua pekerja di seluruh Indonesia pada 2018. Setelah beroperasi penuh pada 2015, kami harapkan pada 2016 sudah tercapai standar terbaik dalam operasional, dan terbaik dalam hal pelayanan pada 2017.

Dengan pencapaian itu, kami harapkan para peserta BPJS Ketenagakerjaan tidak lagi semata-mata sekadar mendapatkan perlindungan dari risiko-risiko, tapi juga mendapatkan akses terhadap kesejahteraan dasar. Itulah yang disebut sebagai total benefit. Di situlah inti kehadiran BPJS Ketenagakerjaan.

Berapa jumlah peserta dan besaran dana kelolaan yang dimiliki BPJS Ketenagakerjaan?

Pada akhir 2014, jumlah peserta tercatat sekitar 16,7 juta, dengan jumlah dana kelolaan Rp 187 triliun, serta hasil Investasi Rp 18,3 triliun. Dibadingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, kenaikan rata-rata mencapai 30-35% setiap tahun. Pada 2015 ini, kami targetkan jumlah peserta mencapai 22 juta dengan dana kelolaan Rp 220 triliun.

Saat ini, BPJS Ketenagakerjaan memiliki 121 kantor cabang penuh, dan akan segera kami bangun lagi 150 kantor cabang pada 2015. Kami punya 1.102 outlet, dan akan segera kami tambahkan 10 ribu outlet lagi dalam beberapa tahun ke depan.

Di mana saja dana kelolaan diinvestasikan?

Kami memiliki tactical allocation untuk berinvestasi. Dari Rp 187 triliun, misalnya, sebanyak 18-22% kami tempatkan di saham, 42-46% di Obligasi, 28-32% di deposito, 5-10% di reksa dana, sisanya di properti dan penyertaan. Dalam berInvestasi, kami tidak melakukannya untuk saham-saham 4 dan Obligasi yang ecek-\" ecek.

Saham yang kami pilih adalah LQ-45 dan saham-saham blue-chips. Begitu pula obligasi yang dipilih, harus berperingkat tinggi. Dalam berinvestasi, kami harus menjaga solvabilitas dan sustainabilitas, sehingga kalau ada klaim, uangnya selalu tersedia. Likuiditas juga menjadi perhatian. Karena investasi adalah bagian dari aktivitas utama kami maka pengelolaan berbasis entre preneursnhip harus menjadi pegangan kami. Jadi, meskipun institusi ini bergerak di civil services, ujungnya kepuasan pelanggan tetap menjadi patokan, Agar para pelanggan puas maka pelayanan harus cepat, akurat, mudah diakses, dan friendly. Ini juga sama dengan yang diberlakukan di korporasi.

Apa yang Anda petik dari pengalaman menggulirkan program transformasi ini?

Perubahan memang tidak mudah, terutama di institusi yang sudah terbiasa berada di zona aman. Tapi, bagaimana pun perubahan harus tetap dilakukan, dan harus dengan cara yang dramatik, bukan dengan kata-kata. Saya ingin mengutip penyair besar WS Rendra yang menyatakan bahwa bertransformasi ini adalah perjuangan. Perjuangan itu adalah pelaksanaan kata-kata.

Dalam hal transformasi BPJS, pelaksanaan kata-kata itu adalah komitmen untuk berubah menjadi lebih baik, Investasi yang lebih baik, pelayanan yang lebih baik, dan kepesertaan yang lebih banyak.

Filosofi hidup Anda?

Saya menganut \"lima K\" sebagai falsafah hidup yang diterapkan dalam bekerja atau berprofesi. Pertama, kerja harus sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah. Kedua, kerja dengan jujur. Ketiga, kerja dengan penuh kehati-hatian. Keempat, kerja dengan perasaan senang. Kelima, kerja dengan keikhlasan. Apa pun tantangan yang dihadapi, jangan pernah menyerah. Do the best.

Masih menekuni hobi musik dan menulis?

Masih, dan bagi saya dua-duanya bukan sekadar hobi, tapi sudah menjadi panggilan hidup. Setiap Sabtu saya masih rutin menggunakan waktu untuk menulis untuk sebuah surat kabar nasional dengan topik keuangan.

Waktu untuk keluarga?

lima hari dalam sepekan adalah untuk bekerja, Sabtu untuk menulis, tapi Minggu pasti saya gunakan waktu sepenuhnya bersama keluarga.

Anda juga mengoleksi batu akik?

Senang juga, terutama batu-batu lokal Nusantara.

Aktivitas sosial?

Saya punya yayasan yang bergerak di bidang sosial untuk membantu kaum dhuafa.

I BIODATA

Nama Lengkap Elvyn G Masassya Tempat/tanggal lahir Medan, 18 Juni 1967 Keluarga Riana Lusinta (isteri) Rengga Mahendra (anak)

PENDIDIKAN:

S1 Ekonomi Unversitas Jayabaya

S2 di Filipina

S2 Manajemen Keuangan WB

KARIER

Direktur Utama BPJS Kenagakerjaan (2012 - sekarang)

Direktur Investasi PT Jamsostek (Persero)

Komisaris PT Bank Bali

Direktur PT Bank Permata Tbk

Corporate Secretary PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk

Direktur PT Tuban Petrochemical Industries

ELVYN G MASASSYA

Sumber : Investor Daily Indonesia

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment