Tak Bisa Lupakan Tiga Hal

(Minggu, 12 April 2015) - PerKoperasian begitu melekat di diri Agung Sudjatmoko. Separuh dari perjalan hidupnya berkutat di dunia tersebut. Sejak mahasiswa hingga kini sebagai ketua harian Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).
Mengenakan batik bermotif kembang-kembang warna cokelat, pria berkaca mata ini mengaku latar belakang keluarga hidup sederhana. Bahkan orangtuanya sempat menyarankan tidak melanjutkan kuliah, karena alasan biayai. Padahal saat itu, Agung sudah masuk Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) melalui jalur PMDK.

Dijelaskan, orangtuanya adalah pegawai negeri sipil (PNS) di pemerintah daerah Pacitan, Jawa Timur. \"Untuk menutupi biaya, tak jarang orangtua saya berdagang. Karena kami termasuk keluarga besar. Saya anak pertama dari enam bersaudara yang semuanya laki-laki. Waktu kecil, saya punya cita-cita jadi guru, terutama guru PNS. Saya pun membayangkan punya rumah sederhana, mobil seadanya, dan tinggal di desa, tapi begitu kuliah, cita-cita berubah total,\" ungkap Agung di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat (10/4) petang.

Tapi tekad belajarnya yang tinggi, akhirnya dia memutuskan kuliah dengan tinggal di masjid kampus sebagai marbot selama awal-awal kuliah, sekitar 1,5 tahun. Ini untuk menghindari kos dan orangtuanya tidak tahu.

Rezeki mulai menghampiri. Menyusul kepercayaan pihak kampus mengangkatnya menjadi satu dari sembilan pengurus Koperasi mahasiswa (Kopma) UNS pada 1989. Sejak itu, Agung merasakan uang transport. Tak hanya itu, dia pun mendapat beasiswa Supersemar. \"Sejak itu, saya tidak lagi minta bantuan biaya sama orangtua, kecuali biaya semesteran. Yang menyentuh saya, waktu saya ceritakan ini sama ibu, ibu saya menangis. Beliau seolah tak percaya. Inilah yang membuat saya sulit melupakan kejadian ini,\" kenangnya.

\"Sepanjang hidup saya, ada tiga hal yang menyentuh perasaan sampai saya tidak akan bisa melupakan hal itu selamanya. Pertama kuliah selama enam tahun lebih, lalu tiga tahun biaya sendiri alias mampu mandiri, dan ketiga bikin usaha bimbel,\" imbuhnya.

Namun, saking sibuknya mengurus Koperasi, kuliahnya jadi molor hingga enam tahun lebih. Tak hanya Koperasi, dia juga mendirikan bisnis bimbingan belajar bersama teman-temannya. \"Tapi saya tetap bangga berkiprah di Koperasi. Karena ada pelajaran tidak langsung saya dapatkan. Di situ saya belajar mengelola usaha, belajar organisasi, terutama bisnis sebagai bagian produk berKoperasi, belajar menemukan masalah sekaligus solusinya. Karena Koperasi itu, punya karyawan, ada unit bisnis, pengurusnya juga banyak. Pengalaman ini tidak semua punya kesempatan untuk berorganisasi dehgan pimpinan kampus,\" terang Agung.

(Heryanto)

Sumber : Indo Pos

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment