Fokus dengan Hadirkan Solusi Digital Lengkap untuk UKM Indonesia

(Senin, 18 Mei 2015) - Menjaga agar performa tetap berkilau di tengah dinamika perekonomian memang perlu pendekatan khusus. Hal itu sebagaimana yang disampaikan Presiden Direktur Commonwealth Bank Indonesia. Antonio Da Silva Costa bahwa menjalankan bisnis sekadar business as usual tidak akan menjamin terciptanya pertumbuhan kinerja yang cemerlang.
\"Saya pikir, kuncinya adalah tetap fokus di strategi dengan memperhatikan faktor funding dan cost offund secara saksama, karena enam bulan pertama pada tahun ini merupakan tantangan besar untuk funding dari sisi deposit,\" ujar orang nomor satu di Commonwealth Bank Indonesia itu kepada Media Indonesia, Selasa (28/4), saat berbincang sembari minum kopi di kantor pusat Commonwealth Bank, Gedung World Trade Center. Jakarta.

Saat ini, menurut pria yang biasa disapa Tony tersebut, PerBankan di Indonesia perlu mencari strategi yang lebih efektif untuk meningkatkan sisi pendanaan demi keseimbangan neraca. Pihaknya sendiri tetap membidik penguatan sektor usaha kecil dan menengah (UKM) sebagai target. Commonwealth Bank merupakan satu dari sedikit Bank internasional yang fokus pada sektor UKM di Indonesia.

Berdasarkan kinerja tahun lalu, anak perusahaan Commonwealth Bank of Australia (CBA) Group itu membukukan laju kredit tahunan 15,98%. di atas rerata penumbuhan industri PerBankan yang hanya 11,6%. Sementara, rasio nonperforming loan (nett) dalam level aman, yaitu 0,8%. Dari sisi aset, kualitas difokuskan ke kredit usaha kecil dan PerBankan komersial yang masing-masing tumbuh 21% dan 25%. \"Itu strategi unik

untuk Bank asing, tapi itu yang kami inginkan. Memang langkah ini akan memakan waktu lama tapi pengaruhnya besar,\" tutur pria yang tahun ini genap berusia 60 tahun tersebut.

Memang tidak ada yang menafikan urgensi peran UKM dalam pengembangan perekonomian nasional. Sejak dulu, UKM telah didapuk sebagai salah satu pilar utama karena kemampuannya dalam menggulirkan perekonomian, pun menyerap tenaga kerja, bahkan di saat krisis.

Tentu saja untuk tumbuh dan berkembang, UKM perlu bantuan. Mulai karena permodalan sampai pendampingan usaha. Maka itu, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, dan Bank Indonesia, amat mendorong pelaku industri PerBankan untuk terjun ke segmen tersebut.

Solusi untuk UKM

Bak gayung bersambut, PerBankan meresponsnya dengan animo tinggi. Tampak dari maraknya produk-produk Bank untuk para nasabah UKM. Agar unggul, Bank perlu punya strategi tersendiri. Seperti Commonwealth Bank Indonesia yang mengintenskan pendekatan ke segmen UKM dengan memanfaatkan teknologi digital.

Mafhum akan penetrasi telepon seluler (ponsel) di Tanah Air yang terbilang tinggi, menurut Tony, Commonwealth berupaya terus memperdalam penetrasi di segmen kredit UKM melalui aplikasi telepon seluler (mobile application).

Per 19 Desember 2014, Bank yang telah hadir sejak 1997 di Indonesia itu, meluncurkan aplikasi Cashflow. Ini adalah aplikasi yang dapat diunduh secara gratis untuk membantu UKM dan profesional memantau dan mengatur keuangan bisnis mereka serta bertransaksi ke semua Bank di Indonesia tanpa biaya.

Adapun aplikasi pintar Biz-loan dirilis Commonwealth Bank Indonesia pada April lalu. Dengan aplikasi tersebut, UKM dipermudah untuk mengajukan pinjaman tanpa agunan sampai Rp500 juta dengan bunga kompetitif 1,3% per bulan. Bizloan juga memungkinkan pemakai aplikasi untuk melakukan simulasi pinjaman mulai dari jangka waktu, jumlah pinjaman, jumlah cicilan bulanan, sampai syarat dan ketentuan terkait fasilitas pinjaman. Jika sudah yakin, dokumen-dokumen pengajuan dapat diunggah lewat aplikasi tersebut.

Commonwealth Bank Indonesia juga baru-baru ini meluncurkan aplikasi WISE, singkatan dari Women investment Series. Aplikasi itu ditujukan untuk meningkatkan Literasi Keuangan para kaum perempuan Indonesia. Hal tersebut dirasa penting mengingat perempuan pada umumnya ialah manajer- manajer keuangan rumah tangga di Tanah Air. \"Kami akan fokus pada layanan aplikasi mobile yang sudah diluncurkan tersebut dan kami akan terus lakukan lagi,\" kata Tony.

Apa yang dilakukan Commonwealth Bank Indonesia terhadap UKM sejalan dengan visi pemerintah yang mewajibkan semua Bank di Indonesia memiliki 20% kredit bagi UKM di sektor produktif sampai 2018. Adapun Pembiayaan ke sektor produktif seperti maritim dan infrastruktur bagi Tony perlu dicermati dengan hati-hati. Peluang yang terlihat belum dapat diimbangi dengan kemampuan Bank memberi pinjaman. Menurutnya, Commonwealth Bank Indonesia sendiri akan dibantu oleh perusahaan induk untuk masuk ke proyek infrastruktur besar.

Akan halnya tingkat suku bunga acuan yang kini di level 7,5%, hal itu dinilainya tidak memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Tony yakin bahwa Bank Indonesia belum akan menaikkan tingkat suku bunga acuan sampai ada kenyamanan dengan nilai tukar yang stabil.

Budaya kopi

Lahir di Portugal dan tumbuh di Kanada membuat Tony kaya akan budaya. Apalagi setelah datang ke Indonesia pada 1994 hingga sekarang, dia mengaku punya kesan sendiri soal Indonesia. \"Kalau budaya Kanada lebih western, tapi Portugal dan masyarakat Latin lebih suka menari dan tertawa, dan sama seperti Indonesia yang memiliki budaya kopi,\" tuturnya dengan sumringah. Berkumpul, makan, berbincang hingga berjam-jam di warung kopi menjadi kegiatan yang umum dilakukan saat senggang dan libur.

Penyuka golf itu pun acapkali menjelajahi kota-kota di Indonesia sembari mengunjungi 32 kantor cabang Commonwealth Bank di luar Jakarta. Bagi Tony, hal itu merupakan kesempatan untuk dapat mencicipi masakan khas Nusantara yang memiliki beragam rasa. Mulai masakan pedas di Manado, masakan manis di Yogyakarta, masakan sunda di Bandung, penganan lumpia khas Semarang, dan bika ambon asli buatan industri rumahan Medan sudah dijela-jahinya. \"Buat saya Indonesia menarik karena ragamnya,\" katanya sambil tersenyum.

Sebagai seorang ekspatriat, hubungan sosial dengan masyarakat lokal pun dirasakan-nya mulus. Yang unik, berbeda dengan kebanyakan orang Indonesia yang suka mengung-gah hal-hal personal di media jejaring sosial, Tony justru enggan membuka kehidupan pribadinya di ranah tersebut.

Dalam pandangannya, hal itu terlalu personal dan terlalu banyak memperlihatkan kisah hidup kita. Ia terus terang mengaku sedikit malu untuk masuk ke ranah teknologi itu. Bahkan, ia hanya menggunakan aplikasi WhatsApp untuk berkomunikasi dan bersosialisasi.

Soal bahasa lokal pun menjadi hal menarik bagi Tony, khususnya bahasa singkatan dan gaul ala ibu kota. \"Slang language di Jakarta sangat menarik. Saat pertama kali ada yang mengatakan cowok dan cewek, saya baru memahami bahwa kata ini berarti boys and girls. Saya melihat ada banyak bahasa khas Jakarta yang memang tidak ada di kamus,\" pungkasnya seraya tertawa.

Sumber : Media Indonesia

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment