Bank Minta Insentif Regulasi

(Rabu, 6 Mei 2015) - JAKARTA-Pelaku perbankan syariah mengharapkan agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merevisi regulasi agar lebih pro bisnis guna menggenjot pertumbuhan lembaga jasa keuangan syariah.
Direktur Utama PT BNI Syariah Dinno Indiano mengungkapkan saat ini industri perbankan syariah memiliki semangat untuk tumbuh. Ibarat bertepuk harus menggunakan dua telapak tangan, dia mengungkapkan regulator pun harus menciptakan aturan yang mendukung.

Dinno mencontohkan, bahwa Bankir-Bankir syariah kini tengah meminta kepada pemerintah untuk memberikan insentif dalam bentuk mengurangi beban pajak untuk nisbah deposito.

\"Kalau bisa regulasi yang diperbaiki. Ya.. Regulasi yang lebih pro industri perbankan misalnya pajak deposito syariah agar lebih ringan lagi,\" ungkapnya, Selasa (5/5).

Saat ditemui pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pajak Sigit Priadi Pramudito mengklaim sepihak bahwa industri perbankan syariah belum ada menyatakan permintaan meminta insentif pajak deposito syariah.

\"Belum ada diminta. Lagian belum ada undang-undang yang mengatur insentif pajak deposito syariah,\" ungkapnya.

Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah Syakir Sula mengungkapkan untuk memperbesar porsi perbankan syariah yang stagnan dan belum mencapai 5% dari total aset Bank konvensional, maka OJK harus menciptakan regulasi baru. \"Insentif pajak perlu, tetap bukan berarti harus bebas pajak. Hanya mengenakan pajak yang lebih rendah,\" ungkapnya.

Syakir menuturkan, regulator yang mampu mendorong dan memperbesar industri syariah adalah OJK. Menurutnya, OJK perlu melakukan lintas koordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia untuk melahirkan regulasi yang lebih pro industri syariah.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad menuturkan akan terus mendorong memperbesar lembaga jasa keuangan syariah. Dia optimis insentif deposito bagi perbankan syariah bisa terwujud dan koordinasi dengan pemerintah akan terus dilakukan. \"Memang idealnya begitu. Kami akan terus melakukan komunikasi dan itu ada harapan.\"

Hingga Februari 2015, total aset perbankan syariah mencapai Rp264,81 triliun atau 4,82% dari total aset bank konvensional senilai Rp5.485 triliun. Secara year on year, aset industri perbankan syariah tumbuh 13,12%.

Sementara itu, pembiayaan perbankan syariah tumbuh lebih lambat dari konvensional. Pada Februari 2015, total Pembiayaan yang disalurkan industri perbankan syariah mencapai R p 197,54 triliun, tumbuh 8,67% dari posisi Rp 181 ,77 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. . Di sisi lain, jumlah bank syariah dan Unit Usaha Syariah masing-masing 12 bank dan 22 bank, dengan total kantor cabang sebanyak 2.469 unit kantor cabang. Adapun total dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun pada Februari 2015 mencapai Rp210,29 triliun, tumbuh 18,04% secara y-o-y dari posisi Rpl78,15 triliun pada Februari 2014.

Selain itu, di tengah melambatnya bisnis syariah, malah rasio Pembiayaan bermasalah {non performing financing/NPF) mencatatkan kenaikan dari posisi 3,53% pada Februari 2014 menjadi 5,1% pada Februari 2015.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon menuturkan stagnasi industri perbankan syariah, cenderung karena masyarakat Indonesia yang dominan beragama Islam memiliki pemahaman syariah relatif rendah. Untuk mendongkrak tersebut, katanya, perlu sosialisasi yang lebih gencar.

Novita Sari Simamora, Annisa Sulistyo Rini Rivki Maulana

Sumber : Bisnis Indonesia

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment