OJK Dorong Pertumbuhan Asuransi Syariah

(Jum'at, 11 Maret 2016) - Keberadaan asuransi syariah belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk turut menyosialisasikan keberadaan asuransi ini.
Semarang, (The Financial) - Keberadaan asuransi syariah belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk turut menyosialisasikan keberadaan asuransi ini.

Direktur Industri Keuangan Non-Bank Syariah OJK, Moch Muchlasin, dalam sosialisasi terkait asuransi syariah yang bekerja sama dengan Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes), di Hotel Grasia, Jumat (11/3), mengatakan, saat ini jumlah konsumen asuransi ini baru mencapai 5,3 persen dibanding dengan asuransi konvensional.

Oleh sebab itu, dia menambahkan, OJK telah merancang program sosialisasi untuk mengenalkannya kepada masyarakat.

’’Untuk asuransi syariah kami targetkan dalam lima tahun ke depan meningkat menjadi dua kali lipat, atau setidaknya 10 persen,’’ujar dia.

Muchlasin menyadari asuransi syariah belumlah akrab di telinga masyarakat. Selama ini, menurut dia, sistem keuangan model syariah masih identik dengan bank syariah. Dia membandingkan dengan Malaysia yang telah lebih dulu mengenal sehingga asuransi ini lebih dominan menguasai ketimbang asuransi konvensional.

’’Di Malaysia sudah mencapai 20 persen,’’ papar dia. Dalam kesempatan yang sama, Fakultas Hukum Unnes meluncurkan Kelompok Studi Hukum Ekonomi Syariah.

Wakil Rektor Bidang II S Martono menyatakan kelompok studi bakal mengadakan kajian sekaligus memberi masukan kepada pelaksanaan asuransi syariah yang izin operasionalnya yang didasarkan pada Keputusan Menteri Keuangan RI No 426/KMK 06/2003 itu. Kajian ilmiah terkait kelembagaan keuangan oleh perguruan tinggi juga dibutuhkan supaya semakin banyak kalangan tak ragu untuk bergabung.
Saling Melindungi Dosen Unnes Dr Duhita Driyah Suprapti menjelaskan, prinsip asuransi dalam Islam adalah saling bertanggung jawab, saling bekerja sama untuk membantu, dan saling melindungi dari segala kesusahan.

Adapun landasan hukum positifnya adalah konstitusi, undangundang, peraturan pemerintah, dan peraturan menteri. Dia menerangkan, keunggulan asuransi syariah, di samping memberikan manfaat proteksi, juga punya manfaat sosial serta bernilai ibadah.

’’Asuransi syariah memastikan dana yang disetorkan nasabah berupa dana tabarru, dana investasi, serta ujrah (dana operasional), dipisahkan dalam akun-akun yang berbeda selaras dengan prinsipprinsip syariah yang adil dan menentramkan,’’ungkap dia.

Selain itu, asuransi syariah juga terbebas dari aktivitas riba dan risiko penipuan atau hal-hal yang merugikan nasabah. Hal itu karena transaksi dan pengelolaan dana berada di bawah pengawasan Dewan Pengawas Syariah berdasarkan arahan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI). Karena itu, kompetisi antarperusahaan asuransi syariah pun tampak makin kompetitif. (Sua/Ch)

Sumber : -

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment