LPS: Likuiditas Perbankan Masih Cukup

(Minggu, 27 Desember 2015) - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan, dengan pertumbuhan kredit yang diprediksi meningkat pada triwulan IV-2015, likuiditas industri perbankan masih cukup untuk memenuhinya. Hingga kini, pergerakan operasi pasar terbuka (OPT) yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) masih dalam batas wajar untuk menambah likuiditas sewaktu-waktu.
Jakarta, (The Financial) - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan, dengan pertumbuhan kredit yang diprediksi meningkat pada triwulan IV-2015, likuiditas industri perbankan masih cukup untuk memenuhinya. Hingga kini, pergerakan operasi pasar terbuka (OPT) yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) masih dalam batas wajar untuk menambah likuiditas sewaktu-waktu.

“Kami perkirakan likuiditas industri perbankan sampai dengan akhir tahun, yang tercermin dari LDR (loan to deposit ratio), akan berada di kisaran 88%–90% dengan pertumbuhan kredit sebesar 12%–13%,” tulis LPS dalam publikasi Indikator Likuiditas yang diterima Investor Daily, baru-baru ini.

Perkiraan LPS tersebut mempertimbangkan dorongan belanja pemerintah yang semakin kuat. Sementara penurunan giro wajib minimum (GWM) primer mengindikasikan optimisme akan ekspansi kredit hingga akhir tahun. “Momentum pertumbuhan ekonomi yang mulai berbalik ke atas sebaiknya diimbangi dengan peningkatan pengelolaan risiko kredit untuk menjaga sustainabilitas kinerja bank,” lanjut LPS.

Terjadi sedikit peningkatan pada posisi OPT oleh BI dari Rp 109 triliun pada akhir September silam menjadi Rp 114 triliun pada Oktober 2015. Sementara, Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (Fasbi) memperlihatkan penurunan sebesar 28,3% dibanding bulan sebelumnya.

Menurut LPS, mulai bergeraknya proyek infrastruktur pemerintah dan peningkatan aktivitas penyerapan anggaran daerah membuat pertumbuhan kredit juga meningkat. “Ini menimbulkan sedikit tekanan di likuiditas perbankan,” ujar LPS.

Pada pertengahan November lalu, BI menurunkan kewajiban GWM primer dalam rupiah sebesar 50 bps menjadi 7,5%.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 17 Desember 2015 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga deposit facility 5,50% dan lending facility di level 8,00%. Bank Indonesia memandang bahwa ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter semakin terbuka dengan terjaganya stabilitas makroekonomi.

“Terjaganya stabilitas makroekonomi itu khusunya pada inflasi akhir tahun 2015 yang akan berada di bawah 3% dan defisit transaksi berjalan yang akan berada pada kisaran 2% dari produk domestik bruto (PDB),” tandas BI.

Dari sisi fungsi intermediasi, BI menyebutkan, pada Oktober 2015 pertumbuhan kredit tercatat sebesar 10,4% (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya, sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi (prosiklikalitas). Sementara pertumbuhan DPK pada Oktober 2015 tercatat sebesar 9,0% (yoy).

“Ke depan, sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan dampak pelonggaran kebijakan makroprudensial, serta penurunan GWM primer oleh Bank Indonesia, pertumbuhan kredit diperkirakan akan terus meningkat menjadi 12-14% pada 2016,” pungkas BI. (Brs/Ch)

Sumber : -

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment