LPS: Dibandingkan Daerah Lain, Pengawasan Perbankan Di Jateng Lebih Bagus

(Kamis, 12 November 2015) - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai pengawasan perbankan di Jawa Tengah tergolong bagus dan aman dibandingkan dengan regional lain.
Semarang, (The Financial) - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai pengawasan perbankan di Jawa Tengah tergolong bagus dan aman dibandingkan dengan regional lain.

Direktur Grup Penanganan Klaim LPS Dimas Yuliharto mengatakan beberapa daerah yang mendapat perhatian lebih besar dari LPS adalah wilayah Sumatra.

“Perhatian kami sekarang ada di daerah Sumatra, Sumatra Barat,” tutur Dimas di sela-sela Seminar Nasional bekerja sama dengan Bisnis Indonesia, Kamis (12/11/2015).

Lebih lanjut dia memaparkan salah satu faktor yang menentukan tingkat keamanan dan kesehatan perbankan di sebuah daerah adalah karakteristik debitur dan karateristik pengurus atau manajemen bank masing-masing daerah.

Dimas menuturkan, 99% bank yang dicabut izin operasionalnya dan dilikuidasi disebabkan oleh fraud baik dari pengurus, pemegang saham, maupun pegawai bank.

Dia menekankan, hal itu dapat dicegah dengan memastikan berlakunya good corporate governance (GCG) sehingga meminimalisasi celah untuk berbuatfraud.

Hal ini terutama berlaku bagi bank perkreditan rakyat (BPR) yang jumlahnya mencapai sekitar 1.600 bank dan tersebar hingga pelosok daerah. Jumlah BPR itu berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan dengan jumlah bank umum.

Data dari LPS menunjukkan selama rentang waktu 2005 hingga kini ada 65 bank yang dilikuidasi dengan jumlah klaim yang dibayar mencapai Rp771 miliar. Adapun dari 65 bank tersebut 64 adalah BPR dan satu bank umum. Dari jumlah tersebut, tujuh bank berasal dari Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sementara dalam rentang waktu yang sama di LPS tercatat melikuidasi 19 bank di Jawa Barat, 16 bank di Jabodetabek, dan 12 bank di Sumatra Barat, baik yang sudah dan tengah diproses. Adapun, secara nasional, saat ini ada 12 bank yang tengah ditangani oleh LPS.

Per Juni 2015, jumlah dana yang tersimpan di bank umum atau bank pembangunan daerah di Jateng tercatat senilai Rp43,65 triliun atau sekitar 1% terhadap dana tersimpan di bank umum secara nasional.

Sementara itu, dana tersimpan di BPR di seluruh Jateng mencapai Rp15,62 triliun atau setara dengan 19% dari total dana BPR secara nasional yang tercatat senilai Rp68,41 triliun.

Kendati BPR mendominasi kasus likuidasi bank, LPS menekankan bukan berarti masyarakat harus menghindari BPR. Pasalnya, sebenarnya BPR lah yang punya jangkauan lebih luas hingga ke pelosok untuk menjalankan fungsi intermediasi perbankan.

“Yang harus diperhatikan adalah 3T-nya. Ketika 3T terpenuhi, dimanapun dia menyimpan uangnya akan aman, even di BPR paling kecil,” ungkap Dimas.

Adapun, 3T adalah persyaratan yang dana yang dapat dijamin oleh LPS, yakni tercatat pada pembukuan bank, tingkat bunga simpanan tidak melebihi bunga penjaminan LPS, dan tidak merupakan tindakan yang merugikan bank. (Bis/Ch)

Sumber : -

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment