Opsi Merger Bank Syariah Masih Terus Diusahakan

(Senin, 9 November 2015) - Opsi merger untuk pembentukan bank syariah dalam skala besar masih menjadi jalan keluar yang ditawarkan Otoritas Jasa Keuangan agar memperbesar pangsa industri tersebut.
Jakarta, (The Financial) - Opsi merger untuk pembentukan bank syariah dalam skala besar masih menjadi jalan keluar yang ditawarkan Otoritas Jasa Keuangan agar memperbesar pangsa industri tersebut.

Jika langkah tersebut direstui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksi entitas bank syariah besar bisa terbentuk paling cepat pada tahun depan.

Deputi Komisioner Pengawasan Perbankan III OJK Irwan Lubis mengatakan hingga kini opsi merger bank syariah masih dalam tahap analisa. Keputusannya, lanjut dia, ada di tangan Kementerian BUMN.

Irwan menyebut, niat awal di balik opsi merger tersebut yakni agar permodalan bank syariah kian kuat. Alhasil, dengan modal tersebut mampu mengerek ekspansi bank syariah sehingga meningkatkan nilai aset.

“Jika disetujui, belum mungkin tahun ini terbentuk , paling cepat tahun depan,” jelas Irwan kepada Bisnis.com, belum lama ini.

Data Statistik Perbankan Indonesia per Agustus 2015 menunjukkan aset yang dihimpun kalangan bank syariah mencapai Rp273,49 triliun atau naik 8,43% secara tahunan (y-o-y). Dibandingkan para pemain konvensional, pertumbuhan aset kalangan syariah tersebut masih jauh tertinggal.

Per Agustus 2015, aset kalangan bank konvensional tumbuh lebih positif di level 15,17% y-o-y menjadi Rp6.010, 74 triliun. Selain tumbuh lebih rendah, nilai aset kalangan bank berakad ini juga belum menyentuh target yang ditetapkan yakni sebesar 5%. Pada bulan ke delapan tahun ini, aset kalangan bank syariah baru menempati 4,55% dari aset bank konvensional.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad berharap aksi merger entitas syariah milik bank pelat merah bisa segera digelar. “Kalau bisa secepatnya, kalau mau cepat, ya bisa kami percepat juga,” jelas Muliaman.

Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) tersebut juga mengungkapkan jika opsi merger direstui, proses penggabungannya bakal dilakukan secara bertahap.

Hingga kini, tercatat ada 3 bank umum syariah (BUS) dan 1 unit usaha syariah (UUS) yang dimiliki bank persero. Rinciannya, yakni PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank BNI Syariah, PT Bank BRISyariah, dan UUS BTN Syariah.

Sebelumnya, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan OJK Mulya E. Siregar menyarankan penggabungan entitas syariah pelat merah dilakukan bertahap. Dia memaparkan setidaknya tiap entitas tersebut harus mensinergikan 3 hal, yakni dari sisi bisnis strategi, sumber daya manusia (SDM), dan teknologi informasi (IT).

“Jadi sebaiknya nanti masing-masing disiapkan, strateginya disiapkan, sehingga nanti ketika strategi bisnis, human resources, dan IT-nya dalam level playing yang sama, baru digabung,” tutur Mulya.

Menurut Mulya, jika langkah merger bank syariah tersebut dilakukan tanpa proses bertahap maka entitas baru akan kewalahan dalam melakukan pembenahan. (Bis/Ch)

Sumber : -

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment