OJK Kaji Diskon Pungutan

(Selasa, 15 September 2015) - Otoritas Jasa Keuangan berencana memberikan insentif berupa diskon pungutan bagi pihak yang menerbitkan produk efek syariah, baik itu saham, Sukuk maupun reksa dana.
Hal tersebut tertuang dalam naskah akademis terkait insentif pungutan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rangka pengembangan industri Pasar Modal syariah.

Naskah itu merupakan langkah awal penyusunan rancangan peraturan mengenai penyesuaian kewajiban pembayaran pungutan bagi wajib bayar di sektor Pasar Modal yang terkait dengan penerbitan produk dan jasa syariah di Pasar Modal.

Dalam naskah akademis yang telah disusun tersebut, diusulkan adanya insentif Pungutan OJK bagi pihak yang terkait dengan penerbitan efek syariah berupa saham, Sukuk, dan reksa dana syariah serta pihak yang mempunyai jasa layanan yang terkait dengan perdagangan efek syariah.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengatakan saat ini pembahasan mengenai rencana tersebut belum sampai tahap final dan masih dalam pembahasan internal.

\"Semua masih dalam pembahasan dan belum final,\" kata Nurhaida, akhir pekan lalu.

OJK sendiri belum memutuskan apakah nantinya akan ada pengurangan pungutan atau bebas bayar pungutan. Yang jelas, semua harus dikoordinasikan dulu dengan pihak terkait lainnya, termasuk pelaku pasar.

Sebelumnya, OJK pernah menyatakan berencana menurunkan besaran pungutan tahunan untuk manajer Investasi yang menerbitkan produk reksa dana syariah.

Saat ini, terkait pungutan yang dikenakan kepada industri keuangan diatur dalam Peraturan Pemerintah No.11/2014 tentang Pungutan OJK. Dalam aturan yang diundangkan di Jakarta, 12 Februari 2014 itu, perusahaan di sektor jasa keuangan wajib membayar sejumlah uang yang dipungut OJK.

Jenis pungutannya ada dua. Pertama adalah biaya perizinan, persetujuan, pendaftaran, pengesahan, dan penelaahan atas rencana aksi korporasi. Kedua, biaya tahunan dalam rangka pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penelitian. Pungutan OJK ini akan digunakan untuk membiayai kegiatan operasional, administratif, pengadaan aset, serta kegiatan pendukung lain nya.

(Rlendy Astrla)

Sumber : Bisnis Indonesia

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment