BPR Siap Dukung UMKM Jateng

(Senin, 14 September 2015) - Kendati ekonomi mengalami perlambatan, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) saat ini memacu penyaluran kredit ke sektor usaha mikro kecil dan menengah di Jawa Tengah untuk pengembangan lini bisnisnya.
Jateng yang dikenal basis UMKM merupakan peluang baik bagi industri keuangan untuk berlomba menyalurkan kredit kepada sektor yang menyasar kalangan menengah ke bawah ini.

Data secara keseluruhan, jumlah UMKM di Jateng berkisar 3,7 juta. Dari angka tersebut, UMKM yang dibina oleh Dinas Koperasi dan UMKM Jateng berkisar 99.681 (data 2014) atau bertumbuh 10,34% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia atau Perbarindo Jateng Dadi Sumarsana mengatakan dalam kondisi seperti sekarang lembaga PerBankan justru mengerem penyaluran kredit. Sebaliknya, pelaku industri BPR melihat potensi yang cukup besar untuk menggenjot penyaluran ke sektor UMKM.

\"Inilah momentum di mana BPR harus mengambil langkah tepat,\" papar Dadi, akhir pekan lalu.

Menurutnya, sektor UMKM pada umumnya tidak begitu berpengaruh pada kondisi perekonomian Indonesia dan global. Mayoritas usaha yang dikembangkan yakni berupa kerajinan kreatif dan kuliner dengan harga terjangkau.

Kendati demikian, Perbarindo mewaspadai lonjakan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tidak lebih dari 5% hingga akhir 2015. \"Antisipasi ke sana sudah dipersiapkan,\" terangnya.

Secara keseluruhan, aset industri BPR pada 2014 mencapai Rp89,9 triliun atau naik dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, kredit yang diberikan (KYD) tumbuh 15,43% dari Rp59,2 triliun menjadi Rp68,3 triliun pada 2014.

Begitupula pertumbuhan dana yang berhasil dihimpun oleh industri BPR dalam bentuk tabungan dan deposito masing-masing tumbuh 13,15% dan 17,79% pada 2014. Pertumbuhan itu juga diikuti dengan perbaikan kualitas kredit, terlihat dari rasio NPL yang semakin baik yaitu 4,76%.

Naneth A. Ekopriyono, Ketua Asosiasi UKM Jateng, mengatakan pelaku UMKM justru dapat bertahan dan diyakini bertumbuh dalam kondisi seperti sekarang ini. Perihal permodalan, dia menyebut setiap pelaku usaha memiliki langkah tersendiri dengan peminjaman ke PerBankan atau BPR.

\"Beragam cara untuk mendapatkan tambahan modal. Bagi yang sudah Bankable lebih mudah untuk pencairannya,\" paparnya.

BISNIS ONLINE

Naneth mengakui keberadaan UMKM di Jateng relatif bertumbuh seiring maraknya bisnis online atau e-commerce. Pelaku UMKM yang didominasi generasi muda, katanya, bisa mencari segmen tersendiri untuk mempromosikan barangnya.

Di sisi lain, pihaknya menegaskan beberapa di antara pelaku segmen menengah ke bawah ini tidak bisa bertahan lama lantaran tidak bisa mengelola manajemen keuangan.

Kepala Perwakilan BI Jateng Iskandar Simorangkir menambahkan upaya BI dalam mendorong bertumbuhnya UMKM terus dilakukan dengan pendampingan ke pelaku usaha melalui asosiasi yang disertai pemberian bantuan.

BI mencatat penyaluran kredit PerBankan Jateng kepada sektor UMKM pada triwulan 1/2015 mencapai 40,71% dari total kredit atau meningkat dibandingkan triwulan IV/2014 hanya 39,99%.

Iskandar menyebutkan pangsa kredit UMKM di wilayah ini jauh di atas pangsa nasional yang tercatat hanya sebesar 19,98%.

Dia menerangkan kredit UMKM tercatat senilai Rp72,2 triliun atau tumbuh 15,45% (year on year), atau meningkat dibandingkan pertumbuhan kredit pada triwulan sebelumnya yang hanya 15,13% (y-o-y).

\"Jika di sini UMKM bertumbuh, penyaluran kredit pasti naik setiap tahun,\" papar Iskandar.

Pihaknya mengakui angka pertumbuhan kredit yang menyasar usaha menengah ke bawah di Jateng jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan nasional sebesar 14,66% (y-o-y).

Sumber : Bisnis Indonesia

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment