Bank Syariah Bukopin Tekan NPF

(Sabtu, 29 Agustus 2015) - Bank Syariah Bukopin berupaya menekan rasio kredit bermasalah (nonperforming finance/NPF) di bawah tiga persen sampai akhir 2015.
Bank Syariah Bukopin berupaya menekan rasio kredit bermasalah (nonperforming finance/NPF) di bawah tiga persen sampai akhir 2015.

Direktur Utama Bank Syariah Bukopin Riyanto mengatakan, saat ini rasio NPF perusahaan telah turun dari empat persen menjadi tiga persen (gross). Untuk menurunkan rasio NPF, strategi yang dilakukan perusahaan melalui penagihan, restrukturisasi pembiayaan, dan memperbaiki sistem pembiayaan lebih baik lagi. Selain itu, pemilihan segmen bisnis lebih terarah dengan mengikuti kondisi yang ada.

\"Beberapa segmen sedang kita hindari, itu manfaat strategi fokus, terakhir prudential banking kita tingkatkan,\" kata Riyanto seusai RUPSLB di gedung Bank Syariah Bukopin Jakarta, Rabu (26/8).

Saat ini, perusahaan lebih fokus menyalurkan pembiayaan ke segmen pendidikan dan kesehatan. Kedua segmen tersebut dinilai relatif memiliki daya tahan. Porsi pembiayaan pendidikan dan kesehatan ditargetkan mencapai 40 persen dari total pembiayaan. Sedangkan, segmen konsumer, seperti kredit kendaraan bermotor lebih dibatasi.

Direktur Bisnis Bank Syariah Bukopin Aris Wahyudi mengungkapkan, perseroan mencatat, NPF gross di level 3,06 persen.

\"Harapannya, NPF sampai akhir tahun di kisaran 2,5-2,6 persen caranya dengan selesaikan penagihan,\" ujarnya.

Pembiayaan Bank Syariah Bukopin ditargetkan tumbuh 20 persen sampai akhir 2015. Aris menyatakan, pada semester II 2015 pembiayaan ditargetkan naik sekitar Rp 300 miliar sampai Rp 500 miliar atau tumbuh 20 persen. Selain pendidikan dan kesehatan, porsi pembiayaan mikro dan UKM juga akan ditingkatkan. Saat ini, porsi pembiayaan mikro dan UKM mencapai 70 persen dari total pembiayaan.

Sampai dengan Juni 2015, total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp 3,8 triliun, tumbuh sembilan persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 4 triliun atau tumbuh 20,43 persen (yoy). Laba bersih tercatat naik 104,9 persen (yoy) menjadi Rp 12,3 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 6 miliar. Bank Syariah Bukopin menargetkan laba bisa naik 200-300 persen, tahun ini. Sedangkan, DPK ditarget tumbuh 20 persen pada akhir tahun.

Di samping itu, Bank Syariah Bukopin telah menerima setoran modal baru sebesar Rp 100 miliar. Dengan adanya setoran modal tersebut, rasio kecukupan modal (CAR) menjadi 16 persen dari sebelumnya 14 persen. Modal inti menjadi Rp 650 miliar.

Dengan tambahan modal tersebut, Bank Syariah Bukopin berharap bisa segera masuk kategori Bank Umum Kelompok Usahan (BUKU) II. Namun, perusahaan masih butuh modal Rp 350 miliar lagi untuk bisa masuk kategori BUKU II.

Saat ini, perusahaan dinilai dalam proses kajian berbagai alternatif yang bisa memperkuat permodalan. Kajian tersebut seperti mengembangkan partner stragetis dari luar atau dari dalam negeri dalam jangka waktu panjang.

Selain itu, perusahaan juga akan fokus pada layanan mobile banking dan internet banking. Untuk fokus layanan tersebut, tidak ada persiapan infrastruktur khusus, namun perseroan menyiapkan produk seperti kartu pembiayaan. (Rpbk/CH)

Sumber : -

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment