Kinerja Saham Perbankan Masih Tertekan

(Rabu, 29 Juli 2015) - Kinerja saham perbankan hingga awal kuartal III 2015 masih mengalami tekanan. Analis mengatakan, ekspektasi kinerja semester I 2015 emiten perbankan yang masih melemah menjadi sentimen negatif untuk saham-saham perbankan.
Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diolah IFT, rerata harga saham-saham sektor PerBankan secara year to date sejak akhir tahun hingga 27 Juli 2015 masih terkoreksi 3,72%. Koreksi terbesar dialami PT Bank Agris Tbk (AGRS) minus 35%.

Lalu PT Bank Dinar Indonesia Tbk (DNAR) minus 23,2% dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang minus 22,2%. Selanjutnya PT Bank BNI Tbk (BBNI) yang harganya year to date terkoreksi 20,5%.

Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain juga terkoreksi. Seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang secara year to date turun 16,1%. Sedangkan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 11,496.

Saham-saham Bank yang mencatat pertumbuhan positif dari akhir tahun lalu adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang tumbuh 2,5%. PT Bank Of India Indonesia Tbk (BSWD) mencatat pertumbuhan tertinggi secara year to date sebesar 172,7%. Dilanjutkan PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) sebesar 103,1% dan PT Bank Panin Syariah Tbk (PNBS) sebesar 48,9%.

Reza Priyambada, Kepala Riset PT NH Korindo Securities, mengatakan saat ini investor masih menunggu hasil kinerja sektor perbankan kuartal II 2015 atau semester I 2015. Beberapa perbankan telah mengonfirmasi akan mengumumkan hasil kinerja semester I tahun ini pada akhir Juli 2015.

Reza menyatakan, berdasarkan data estimasi konsensus analis, kinerja laba bersih PerBankan pada semester I 2015 masih tumbuh moderat secara year on year (yoy). PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN), Bank BCA, dan Bank Mandiri diperkirakan tumbuh di bawah 10% pada semester I tahun ini.

Bank BTN dalam laporan keuangan semester I 2015 yang telah dipublikasikan Selasa (28/7), membukukan laba bersih Rp 831,2 miliar, naik 54,2% yoy dari Rp 538,9 miliar. \"Kenaikan laba bersih Bank BTN tinggi disebabkan adanya beban provisi yang besar pada tahun lalu,\" kata Reza.

Reza menjelaskan, beberapa PerBankan yang kinerjanya diperkirakan melemah secara yoy antara lain PT Bank Danamon Tbk (BDMN) yang turun 7% menjadi Rp 1,38 triliun. Sementara Bank BNI diperkirakan turun 5,7% yoy menjadi Rp 4,66 triliun.

\"Melemahnya laba Bank BNI disebabkan laba kuartal II yang diperkirakan konsensus analis melemah 35% quartal on quartal (qoq). Ini seiring manajemen yang diperkirakan akan meningkatkan cadangan provisi kredit macet (.non performing loan/NPL) pada kuartal tersebut,\" papar dia.

Penurnan kinerja juga terjadi pada Bank BRI yang diperkirakan laba bersih semester I 2015 melemah tipis 0,8% yoy. Pelemahan tersebut seiring konsensus yang memperkirakan laba BRI pada kuartal II turun 10% qoq. \"Alasannya sama karena manajemen diperkirakan mengalokasikan cadangan provisi NPL-nya di kuartal tersebut,\" jelasnya.

Laba bersih Bank Danamon pada semester I 2015 sebesar Rp 1,25 triliun atau turun 16% yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 1,49 triliun. Sng Seow Wah, Direktur Utama Danamon, mengatakan penurunan itu akibat kondisi Makro ekonomi yang menantang pada semester pertama 2015. \"Ini berdampak pada bisnis kami yang mengakibatkan turunnya permintaan kredit,\" ujarnya.

Kebijakan OJK

Beberapa kebijakan yang diluncurkan pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di sektor perbankan diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan kredit perbankan di tengah pelambatan ekonomi dalam negeri. Ada 12 kebijakan yang diterbitkan OJK yang terbagi ke dalam dua area, yaitu menurunkan risk weighted assets (RVVA) dan melonggarkan proses restrukturisasi kredit.

Kebijakan-kebijakan itu diharapkan dapat meningkatkan kredit baru perbankan yang tahun ini diprediksi tumbuh sekitar 13%-15%, turun dari tahun sebelumnya sebesar 16%-17%.

Tjandra Lienandjaja, Analis PT Mandiri Sekuritas, meyakini kebijakan baru akan membantu kemampuan Bank meningkatkan kredit mereka. Meski hal tersebut akan diiringi pelonggaran ketentuan yang lebih ketat seperti RWA untuk kredit otomotif.

\"Ini membuat Bank memberikan kredit untuk konsumen dengan , kualitas yang lebih rendah dan proses restrukturisasi kredit tanpa mempertimbangkan kondisi finansial konsumen,\" kata Tjandra.

Disisi lain, aturan tersebut juga berpotensi memperlambat penurunan kualitas aset pada semester II 2015. Mandiri Sekuritas memprediksi posisi puncak NPL akan berada pada kuartal III 2015, sebelum perbankan mulai menawarkan restrukturisasi kredit dan atau melakukan penghapusbukuan (write off) pada kuartal IV 2015.

Mandiri Sekuritas memprediksi industri perbankan Indonesia akan mencatat perolehan laba yang terbatas sebesar 48% dari target tahun penuh berdasarkan konsensus. Sementara berdasarkan target perbankan sendiri untuk proyeksi setahun penuh, Mandiri memperkirakan realisasi laba Perbankan hanya akan mencapai 46% dari target tersebut.

\"Misal BRI kami prediksi hanya akan membukukan pertumbuhan laba semester I sebesar 3% yoy,\" ungkapnya.

Namun, industri perbankan dinilai akan membukukan peningkatan marjin laba bersih (net interest margin/UlM) akibat penurunan suku bunga deposito. Seperti Bank BRI yang diperkirakan membukukan NIM sebesar 7,5%.

Secara industri, pertumbuhan kredit PerBankan semester I 2015 diprediksi tumbuh 11% yoy. Sementara NPL diprediksi sebesar 2,1% yoy. \"Saat ini kami masih menyatakan rekomendasi neutral pada sektor perbankan,\" paparnya. ®

Salim Maula Djuha

Sumber : Indonesia Finance Today

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment