BEI Siapkan Prosedur Perubahan Ticker Emiten

(Rabu, 15 Juli 2015) - Otoritas bursa Indonesia tengah mempersiapkan prosedur teknis dan bisnis bagi emiten yang ingin mengubah kode saham (ticker) mereka yang tercatat di pasar. Pelaku pasar merespons positif langkah otoritas bursa yang memfasilitasi perubahan ticker emiten ini.
Samsul Hidayat, Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), mengungkapkan pihak bursa tengah melakukan persiapan untuk memperbolehkan emiten mengganti ticker mereka. \"Secara teknis dan bisnis, BEI tengah mempersiapkannya,\" kata dia.

Menurutnya, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi emiten agar mereka bisa mengubah ticker. Antara lain, emiten mengalami perubahan lini bisnis inti atau nama akibat akuisisi ataupun penggabungan usaha (merger). \"Ke depannya, akan memungkinkan bagi emiten mengubah ticker mereka. Tapi mereka harus mengajukan alasan yang jelas, tidak hanya asal mengganti saja,\" ujarnya.

Untuk saat ini, Samsul belum bisa menjelaskan secara detail perihal perubahan prosedur ticker ini. Namun saat ini BEI tengah mengkaji sistem perubahan ticker, sehingga data historis emiten bersangkutan tidak akan hilang meski sudah berganti ticker.

Sampai saat ini, ungkap Samsul, belum ada emiten yang mengajukan diri untuk mengubah ticker. Salah satu penyebabnya karena memang belum adanya prosedur yang jelas terkait perubahan ticker dan sistemnya.

Richard Kartawijaya, Chief Executive Officer (CEO) PT Link Net Tbk (LINK), menyambut baik wacana perubahan ticker ini. \"Sebelumnya tidak bisa dan belum pernah ada. Saya rasa ini cukup positif bagi pasar. Kita tinggal menunggu saja hasilnya seperti apa,\" ujarnya.

Daniel Yuwono, Corporate Secretary PT MNC Land Tbk (KPIG), salah satu emiten yang belum mengubah ticker pascaperubahan nama perusahaan, menilai kemungkinan bagi emiten mengubah ticker merupakan hal positif. \"Ini bisa membawa angin segar bagi keberlangsungan bisnis emiten yang ingin mengubah lini bisnisnya,\" kata Daniel kepada IFT.

Husni Heron, Direktur PT Mitra Energi Persada Tbk (KOPI), mengatakan untuk saat ini pihaknya belum berencana dan mengalokasikan dana untuk mengubah ticker mereka. \"Dari BEI sendiri tidak menawarkan kami untuk mengubah ticker saat kami mini expose relisting. Kami juga belum merencanakan perubahan ticker karena tidak mengalokasikan dana untuk hal ini,\" paparnya.

Sosialisasi

Mardani) Herman, Presiden Direktur PT Danareksa Sekuritas, mengungkapkan sebaiknya perusahaan yang mengubah nama atau bidang usaha memang mengubah ticker mereka. \"Perubahan ticker diperlukan karena akan lebih mempresentasikan perusahaannya,\" jelasnya.

Ia juga mengusulkan strategi lain, yakni BEI melakukan perubahan ticker pada semua perusahaan tercatat agar tidak mengandung makna perusahaan, seperti menggunakan nomor acak. \"Ini karena suatu perusahaan bisa saja diakuisisi atau merger atau melakukan perubahan bisnis usaha berkali-kali,\" ungkap dia.

Namun, perubahan ticker sebenarnya tidak berdampak signifikan pada kinerja, karena hanya masalah administrasi. Namun, jika perusahaan melakukan perubahan ticker, mereka harus melakukan sosialisasi kepada publik.

Aksi akuisisi ataupun penggabungan usaha (merger) merupakan salah satu aksi perusahaan yang lazim terjadi di Pasar Modal. Tidak jarang perusahaan yang telah diakuisisi atau merger akan mengalami perubahan bidang usaha dan nama perusahaan, menyesuaikan perusahaan yang melakukan pengambilalihan.

Contohnya, pada 2012 PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) melakukan perubahan nama menjadi PT Vale Indonesia Tbk. Ketika nama perusahaan International Nickel Indonesia, ticker emiten adalah INCO dan ticker itu tidak berganti ketika nama perusahaan berubah.

Ada juga PT MNC Kapital Tbk (BCAP) yang masih menggunakan ticker yang sama dari nama sebelumnya PT Bhakti Capital Indonesia Tbk. Begitu juga PT Global Land Development Tbk (KPIG) yang berubah nama menjadi PT MNC Land Tbk.

Perubahan ticker ini menjadi salah satu yang menjadi agenda pertemuan antara BEI dengan emiten beberapa waktu lalu. BEI mengumpulkan beberapa emiten untuk berdiskusi terkait pengembangan pasar saham ke depan.

Samsul mengungkapkan, bursa mengundang beberapa emiten untuk berdiskusi terkait pengembangan pasar saham Indonesia. Forum ditujukan untuk menampung usulan dan masukan dari para emiten dalam pengembangan pasar.

Beberapa hal yang dibahas dalam pertemuan antara lain pelaporan emiten ke publik melalui sistem pelaporan terintegrasi. Selama ini emiten harus melapor ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI. \"Mereka berharap ke depan bisa memberi laporan satu yang nantinya bisa digunakan oleh OJK dan BEI. Usulan mereka akan kami tampung,\" jelas dia.

Forum juga membahas soal annual listing fee. Menurut Samsul, beberapa emiten masih menyampaikan keberatannya terkait penerapan annual listing fee yang baru.

Christmastuti Destriyani

Sumber : Indonesia Finance Today

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment