Kuartal III, 7 Perusahaan Masuk Bursa

(Rabu, 8 Juli 2015) - Jakarta - Tujuh perusahaan akan masuk Bursa Efek Indonesia pada kuartal HI-2015. Ini antara lain PT Intermix dan PT Victoria insurance, yang berencana menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/WO) saham. Meski kondisi pasar belum kondusif, saham IPO diyakini tetap menarik bagi investor.
Dari tujuh perusahaan tersebut, yang sudah menyatakan berencana masuk Bursa Efek Indonesia (BEI) pada kuartal HI-2015 adalah PT Internux, PT Victoria insurance, PT Anabatic Technologies, dan PT Binakarya Jaya Abadi. Sedangkan yang kemungkinan akan IPO adalah PT Bank Harda, PT Gelombang Siesmic Indonesia, dan PT Vallianz Offshore Maritim.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat mengatakan, sejumlah perusahaan memangkas target raihan dana IPO tahun ini, antara lain karena kondisi pasar belum kondusif. \"Namun, kami optimistis saham IPO tetap menarik bagi investor. Untuk target dana, itu sudah melalui perhitungan. Kalau mereka melepas lebih sedikit saham ketika IPO, ke depan ada yang merencanakan rights issue,\" kata Samsul Hidayat di Jakarta, Selasa (7/7).

PT Internux dan PT Victoria insurance berencana menggelar IPO saham pada kuartal III-2015, dengan menggunakan dasar valuasi laporan keuangan Maret 2015. PT Internux, penyedia layanan internet berkecepatan tinggi merek Bolt, berencana melepas sekitar 20-25% sahamnya ke publik dengan target raihan dana sekitar Rp 750 miliar. Aset perseroan diperkirakan mencapai Rp 3,6 triliun.

Sementara itu, PT Victoria insurance akan menawarkan 20-25% saham ke publik. Target raihan dana sebesar Rp 40 miliar.

Sedangkan PT Anabatic Technologies dan PT Binakarya Jaya Abadi berencana mencatatkan saham perdana atau listing di Bursa Efek Indonesia sebelum Idul Fitri Juli ini Anabatic Technologies melepas 375 juta (20%) saham, di bawah target semula yang sebanyak 642,85 juta (30%) saham dari modal ditempatkan perseroan.

Distributor perangkat TI itu menetapkan harga pelaksanaan Rp 700 per saham, dari batas atas semula yang Rp 800 per saham. Dengan demikian, perseroan akan meraup dana IPO Rp 265,5 miliar. Perseroan menjadwalkan listing di BEI pada hari ini (8/7).

Sedangkan PT Binakarya Jaya Abadi menawarkan 150 juta saham baru ke publik seharga Rp 1.000 per saham, atau lebih rendah dari target semula yang sebanyak 238,15 juta saham. Dengan demikian, Binakarya berpeluang mengantongi dana IPO Rp 150 miliar. Perseroan berencana listing di BEI pada 14 Juli 2015.

Sementara itu, berdasarkan catatan Investor Daily, terdapat tiga perusahaan yang menyatakan minat menggelar IPO pada semester 1-2015. Namun, hingga kini, ketiga perseroan belum merealisasikan rencana tersebut Mereka adalah PT Bank Harda, PT Gelombang Siesmic Indonesia, dan PT Vallianz Offshore Maritim. Sedangkan PT Indonesia Media Televisi dikabarkan telah menunda IPO hingga periode yang belum ditentukan.

Membaik

Analis PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, minat IPO calon emiten pada semester 11-2015 diperkirakan masih bisa meningkat, karena kondisi Makro ekonomi Indonesia diperkirakan membaik. Selain itu, sentimen global seperti krisis Yunani juga diestimasi sedikit mereda.

\"Sampai saat ini baru ada 10 emiten anyar di BEI. Target hingga 32 emiten yang dicanangkan BEI tahun ini memang cukup berat. Tapi, masih ada harapan di semester II,\" ujar dia kepada Investor Daily, kemarin.

Menurut dia, sentimen yang memengaruhi minat IPO calon emiten pada tahun ini berbeda dibanding tahun lalu. Tahun ini, pasar modal lebih banyak didera oleh sentimen global. Sedangkan tahun lalu, faktor politik domestik lebih berpengaruh.

\"Kondisi sekarang cenderung membuat calon emiten berhati-hati. Ada calon emiten yang telah mempersiapkan proses melantai di bursa sejak enam bulan lalu ketika kondisi pasar sedang bagus, tapi tidak ada yang mengetahui persis kondisi pasar saat ini,\" ucap dia.

Tapi, lanjut Hans, hal sebaliknya bisa terjadi. Jika calon emiten mulai bersiap IPO saat ini, kemungkinan ada peluang tiga sampai enam bulan ke depan pasar mampu kembali menguat Peran emiten baru diperkirakan cukup penting untuk mendorong kenaikan volume transaksi. Selama Ramadan, aktivitas transaksi saham sepi dibanding bulan biasa.

\"Kemungkinan, rata-rata nilai transaksi perdagangan harian sekitar Rp 4-5 triliun pada bulan Ramadan. Setelah Lebaran, rata-rata nilai transaksi bisa kembali normal berkisar Rp 6-7 triliun,\" kata dia.

Sentimen Yunani

Terkait dengan perkembangan sentimen global, Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan, krisis Yunani diperkirakan tidak berdampak secara langsung terhadap Pasar Modal di Tanah Air. Selama kinerja emiten masih bertumbuh, Pasar Modal diperkirakan tetap terjaga.

\"Yunani itu penduduknya cuma 11 juta, sedangkan Jakarta ada sekitar 20 juta. Jadi, agak sulit saya menarik garis langsung. Dampak psikologisnya memang menakutkan, tapi itu jangka pendek,\" kata dia.

Tito menambahkan, pelemahan pertumbuhan ekonomi Tiongkok justru lebih mengkhawatirkan ketimbang krisis Yunani. Dampak Tiongkok pada negara berkembang lebih menakutkan dan pelemahan itu masih terus berlanjut.

Di tengah sentimen krisis Yunani dan rencana kenaikan suku bunga The Fed di Amerika Serikat lanjut Tito, pasar modal Indonesia masih mampu melaju, asalkan Pemerintah Indonesia mempercepat penyerapan anggaran untuk membangun infrastruktur dan bank tetap memberikan kredit Dengan demikian, roda perekonomian tetap berjalan.

Dia menyarankan pemerintah turut mengajak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjadi bagian dari sistem protokol krisis, dalam rangka memperkuat Pasar Modal. Pihaknya yakin, indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu bergerak positif dan nilai perdagangan harian di BEI terus meningkat terutama pasca Ramadan.

Usai rapat umum pemegang saham tahunan PT Bursa Efek Indonesia yang resmi mengangkat Tito Sulistio sebagai direktur utama, ia menargetkan akan menggenjot jumlah emiten, investor, nilai perdagangan, serta memperkuat anggota bursa (AB) dan pengawasan transaksi di Pasar Modal. \"Kami menargetkan emiten baru sebanyak 32-40 perusahaan per tahun,\" kata Tito Sulistio waktu itu.

Tito mengatakan, pihaknya akan mendorong lebih banyak badan usaha milik negara (BUMN) mencatatkan sahamnya di BEI. Menurut dia, privatisasi BUMN tersebut merupakan salah satu faktor yang akan mendorong pertumbuhan Pasar Modal domestik, dari sisi jumlah emiten maupun jumlah investor.

Tito akan proaktif mengajak pemerintah, khususnya Kementerian BUMN, untuk membahas privatisasi BUMN. Dia juga ingin melunturkan paradigma yang menganggap privatisasi sangat erat dengan penjualan aset negara.

\"Kami juga perlu dukungan pemerintah. Misalnya untuk meningatkan jumlah emiten, pemerintah perlu membantu privatisasi BUMN. Jangan sampai market cap kita besar, tapi hanya segelintir perusahaan yang menguasai market cap tersebut\" ujar dia.

Dengan emiten yang terus bertambah dan harga saham yang meningkat, market cap diharapkan terus melejit Market cap di BEI pernah mencapai level tertinggi Rp 5.566 triliun pada 7 April 2015. Per 7 Juli 2015, kapitalisasi pasar BEI sebesar Rp 5.008 triliun.

Oleh Farid Firdaus

Sumber : Investor Daily Indonesia

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment