Philip Morris Komitmen Lepas 5,68%

(Selasa, 7 Juli 2015) - Philip Morris Indonesia berencana menjual sahamnya di PT HM Sampoerna Tbk senilai sedikitnya US$1 miliar untuk memenuhi regulasi free-float otoritas bursa Indonesia.
Direktur PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) Yos Adiguna Ginting mengatakan ada beberapa pilihan strategis yang sedang di-eksplorasi perseroan. Adapun, saat ini pilihan-pilihan tersebut sedang dievaluasi oleh para Bank Investasi yang telah ditunjuk perseroan.

\"Untuk itu, kami tidak dapat memberikan informasi lebih lanjut sampai seluruh tahapan-tahapan evaluasi yang diperlukan telah dilakukan, serta setelah dilaporkan kepada OJK dan BEI,\" kata Yos, Senin (6/7).

Pada akhir Juni, emiten berkode saham HMSP dengan kapitalisasi pasar Rp311,63 triliun itu sudah melaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait dengan keputusannya untuk mengeksplorasi berbagai pilihannya dalam memenuhi ketentuan BEI mengenai batas minimum kepemilikan saham publik.

Perseroan juga telah menunjuk Bank Investasi (investment Banks) untuk mengevaluasi berbagai pilihan strategis dalam memenuhi ketentuan tersebut, termasuk hal-hal yang terkait berbagai potensi transaksi pasar modal.

Keputusan Sampoerna untuk mengeksplorasi pilihan-pilihan ini dilakukan dengan mengacu pada Surat Keputusan Direksi PT BEI No. Kep-00001/BEI/01-2014 yang mewajibkan semua perusahaan publik yang terdaftar untuk memiliki setidaknya 7,5% dari total modal disetor mereka untuk dimiliki oleh publik paling lambat pada tanggal 30 Januari 2016.

Berdasarkan informasi dua orang sumber Reuters, Senin (6/7). Philip Morris tengah menyeleksi manajer Investasi untuk memfasilitasi aksi divestasi sahamnya, yakni Goldman Sachs, Credit Suisse AG, JPMorgan, Citigroup, dan Mandiri Sekuritas.

Philip Morris setidaknya akan menjual 5,68% saham miliknya sehingga saham Sampoerna yang beredar di pasar publik mencapai 7,5% dari total saham perseroan.

Saat ini kepemilikan saham Philip Morris terhadap Sampoerna mencapai 98,18%. Adapun, Sampoerna tercatat sebagai produsen rokok terbesar di Indonesia dilihat dari valuasi pasarnya dengan nilai menembus US$23 miliar.

Bursa Saham mewajibkan setiap emiten yang melantai di pasar saham Indonesia untuk menyediakan porsi saham publik atau saham free float setidaknya 7,5%. Ketentuan itu sudah harus dipenuhi pada 30 Januari 2016. Namun, belum jelas kapan Philip Morris akan menjual porsi sahamnya itu.

BERGERAK NAIK

Sementara itu, pada perdagangan sore kemarin saham Sampoerna tercatat naik 0,8%, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga saham gabungan yang justru terdepresiasi 1,2%.

Saat dimintai tanggapannya, Citigroup enggan berkomentar sementara Goldman, Credit Suisse, dan JP Morgan tak bisa ditanya dalam waktu dekat. Demikian pula dengan Mandiri Sekuritas. Sampoerna memproduksi merek rokok terkenal. Salah satunya adalah A Mild dan Dji Sam Soe.

Tahun lalu, perseroan mencatatkan . ceruk pasar sebesar 35%. Adapun, keterlibatan Philip Morris di Sampoerna dimulai pada Mei 2005. Pada saat itu, melalui anak usahanya yakni Altria Group mengakuisisi 97,95% saham Sampoerna.

Sementara itu, selama kuartal 1/2015 emiten berkode HMSP ini membukukan penguatan pendapatan dan laba bersih dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan mencatatkan penjualan bersih senilai Rp21,6 triliun atau naik 17,7% secara year on year dari Rp18,3 triliun.

Adapun, laba bersih Sampoerna bertumbuh dari Rp2,8 triliun mpnjadi Rp2,9 triliun. Perseroan membagikan dividen senilai Rp4,27 triliun atau senilai Rp975 per lembar saham bagi para investornya.

Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyam-bada menilai diperlukan kerja keras ekstra agar saham tersebut diminati oleh investor.

Dia menilai, pergerakan saham HMSP tidak begitu likuid selama ini. \"Jadi, ketika emiten menawarkan sahamnya ke publik, belum tentu semua mau, mereka akan lihat sejauh mana likuiditas saham tersebut,\" kata Reza, saat dihubungi Bisnis, Senin (6/7).

Reza memprediksi, ketika nantinya saham publik HMSP bertambah, di awal pelaku pasar belum akan tertarik untuk menyerap.

Investor akan melihat pergerakan sahamnya terlebih dahulu. Untuk meningkatkan likuiditas saham HMSP, menurutnya, diperlukan kerja sama antara emiten dengan sekuritas.

Ardhansreswari Riendy Astrla

Sumber : Bisnis Indonesia

COMMENTS
LEAVE A REPLY
Name *
Email *
Website
Comment